Yangie Dwi M.P

Life is compared to a voyage, so colour your life colourfully and should come closer to Allah


Leave a comment

Oh! Inikah rasanya culture shock? But you have to deal with it!

You have bad attitude! ga ada yang mau ngajarin kamu, ga ada yang mau temenan sama kamu kalau kamu memperlakukan anggota lab seperti itu! ditambah lagi skill-mu buruk sekali jadi pasti kamu butuh kami”. Begitulah 박사님 atau post-doc student yang menjadi lab manager tempat saya saat ini bernaung, blak-blak-an memberitahu saya. Saya, yang notabene tidak pernah sama sekali bermaksud berperilaku buruk kepada orang lain, apalagi di tempat baru, tentu syok dengan informasi ini. Saya awalnya merasa tidak terima. Saya masih ingat betul kosakata dan urutan kalimat yang digunakan karena tentu ada rasa nyut-nyutan di hati setelah perkataan tersebut. Namun entah kekuatan dari mana yang saya lakukan saat itu hanyalah mendengarkan, berusaha menangkap penekanan apa yang sebenarnya ingin wanita ini sampaikan, agar menjadi evaluasi saya ke depan. Kebanyakan concerns mereka sebenarnya hanya karena lack of communication. Continue reading


2 Comments

Jurnal PhD Bunda (part II)

Tampaknya saya mulai menerima apa yang terjadi setahun kebelakang dalam perjalanan ini. Apa yang saya alami istilah kerennya adalah culture shock. Menurut w-shape curve, saya mungkin saat ini berada dipoin 4.

Seperti yang telah saya ceritakan di sini (saya tulis ketika masa honeymoon dengan negara ini), keputusan sekolah lagi boleh dikata melalui proses yang cukup singkat dan penuh keisengan. Iseng bertanya, iseng mendapat respon, iseng berlanjut namun tak iseng untuk diselesaikan. Ga deng.. ga ada di dunia ini yang kebetulan, semuanya adalah kejadian saling terkait dan tentu membutuhkan izin Allah. Padahal mau sekolah ke jenjang S3 yang bukan hanya tentang kuliah tapi bagian terpentingnya adalah penelitian, ya setidaknya punya jangka waktu tertentu untuk menggali lebih dalam informasi atau riset kecil-kecilan lah terutama mengenai jenjang pendidikan itu sendiri, topik penelitian yang benar-benar disukai, budaya tempat penelitian (budaya lab), professor-nya, member laboratoriumnya nya, sampai kultur negara yang hendak dituju.

Ketika saya melanjutkan pendidikan magister, rasa-rasanya saya tidak mengalami yang namanya culture shock sesampai di Scotland. Selain karena masa studi yang cukup singkat, tantangan language barrier yang lebih mudah (paling aksen scottish saja sih), negara yang multikultural, namun juga menurut saya karena saya lebih prepare dengan menggali segala informasi tentang kampus dan negara tersebut. Saya ingat saya menonton berulang-ulang Sherlock Holmes versi BBC agar makin familiar dengan aksen dan budayanya. Aktivitas ini setidaknya menumbuhkan benih-benih cinta (duile) dengan negara yang hendak dituju.

Sedangkan ketika ke Korea ini, karena serba mendadak, saya hanya mengumpulkan informasi tentang hebatnya kemajuan negara ini saja terutama di bidang penelitian. Saya lupa belajar sejarah negara ini. kenapa penting ? karena dari mengetahui sejarah, asal-usul, kita akan memahami terciptanya suatu budaya atau kebiasaan di negara tersebut. Ketika wawancara beasiswa pun ditanya apakah kamu suka dengan budaya Korea? siapa artis favorit mu? saya jawab saja sekenanya SNSD dan BTS karena cuman itu yang seliweran di kuping saya dari para fansnya. Nonton drama Korea terakhir ya Winter Sonata jadi ketahuan kan angkatan berapa. Tadinya saya berpikir hanya fokus mau belajar saja hingga lulus, lagian kampusnya insyaAllah salah satu kampus terbaik ya masa sih ga internationalized? lagi-lagi ternyata saya salah besar, ternyata PhD itu ilmu akademiknya mungkin secimit yang segudang ilmu kehidupannya.

Awalnya saya baper banget tuh ketika ditinggal mobil rombongan atau ditolak naik mobil ketika ke tempat makan alasannya karena jadi ngomong bahasa inggris sama saya. Professor juga tampak lebih membela anggota lama dan mendesak saya segera bisa bahasa Korea. Ditambah lagi skill saya yang zonk ! Duh ini pelajaran banget sih please bagi yang mau lanjut PhD jujurlah mengenai skill dan it is okay bilang ga bisa atau ga tau. Masa desperate, suram, helpless tersebut benar-benar menghilangkan garis senyum saya. Saya refleksi diri, curhat sana-sini, sampai maju-mundur ingin ikut konseling kampus. Saya kembali mengingat materi pengelolaan emosi di Enlightening Parenting. Saya mencoba mendeskripsikan perasaan apa yang saya rasakan tersebut hingga akhirnya saya menemukan oh ini namanya culture shock dan saya sebenarnya butuh empati dari teman-teman. Ekspektasi saya kedatangan orang asing di suatu tempat akan seperti kaum Anshor yang merangkul Muhajirin. Ternyata hal tersebut halu saja. Sayalah yang harus memahami betul peribahasa lain rumput lain belalang. Mau tidak mau kita yang harus mengetahui aturan main di sini. Suka tidak suka kita yang harus extra effort untuk lebih proaktif. Setelah berhasil mendeskripisikan perasaan, proses selanjut yang tak kalah menyakitkan adalah memaafkan diri saya sendiri atas kebodohan dan kelalaian saya, saya kembali menjadi sering menyapa dan memberikan afirmasi positif orang di depan saya ketika saya bercermin, saya berusaha mengenal lebih budayanya dengan nonton K-drama (tetap pilih-pilih sih karena ga tipe nonton dan nonton ketika nyuci piring), saya berusaha untuk memanajemen masalah, mana yang perlu dihiraukan mana yang ya just let it go and ignore it because not so essential. Ketika ada anggota baru, saya berjanji untuk lebih empati dan menawarkan bantuan sehingga merasa diterima dengan baik di tempat baru tersebut. Dalam segi skill sampai kapanpun mungkin saya tidak akan bisa melampaui kolega-kolega lain dan saya tidak bertujuan untuk berkompetisi. setidaknya saya berprogress setiap harinya. Saya akan menikmati learn how to learn selama perjalanan ini.


Leave a comment

Master Piece Bernama Manusia

Bismillah…

Assalamualaykum!

Gimana gimana nih kehidupan? alhamdulillah so far masih hidup ya.. masih punya kesempatan untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin. Setahun menjadi mahasiswa lagi membuat saya makin sadar (apalagi sudah menjadi ibu dua anak) bahwa… ternyata PhD itu BERAT dan ga maen-maen amanahnya. HAHAHA. Alhamdulillah ya Buuu begimana sih baru sadar.. makanya kalau buat keputusan lebih matang dan lebih bijak dong (menertawakan diri sendiri). But anyway… saya telah memilih, Allah telah mengizinkan dan sudah menempatkan saya disini, jadi saya pun ingin bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut dan harus selalu berbaik sangka bahwa Allah telah menakar sesuai kemampuan hamba. Suatu hari, selepas diskusi dengan professor seperti biasa saya curhat lah ke suami. Lalu saya bertanya “Gimana? aku lanjut ga nih?”. “Loh kok nanya aku? Ya pertanyaan tersebut ku kembalikan lagi ke kamu yang menjalani. Apakah kamu mau lanjut? Kamu harus punya STRONG WHY mengapa memilih mengambil jalur PhD ini. Kan sudah tau berat. Misal aku mengambil jalur bisnis nih ya karena aku menemukan misi hidupku di jalur tersebut. Mau pernah bangkrut, mau pernah sukses aku tetap enjoy bahkan bagi orang yang telah menyenangi suatu bidang, tidur pun itu sebagai distraksi. Fondasi alasan ini harus benar-benar kuat karena ketika menemui apapun tantangannya, kamu akan kembali pada fondasi ini.”

Sebenarnya dalam hati terdalamku aku masih tetap ingin lanjut, namun melontarkan pertanyaan ke pasangan kan sebenarnya berharap dikuatkan kembali. Hah namanya cowok ya..ga bisa pakai kode-kode. Langsung saja katakan I need you to re-ensure me that I can pass this! hehehe.

Salah satu alasan mengapa tetap ingin belajar ke jenjang ini mungkin berkaitan pula dengan kekagumanku akan kompleksitas penciptaan seorang manusia. Pernah ga sih merenung dan berpikir kok bisa ya? dari satu sel berkembang menjadi dua, dan kemudian jadilah satu bentuk makhluk paling sempurna. Misal siklus sel hingga membelah menjadi dua sel dengan masing-masing memiliki sepasang kromosom dari ayah dan ibu. Untuk mencapai itu, buanyak sekali lho yang harus diatur, seperti cyclin dependent kinase yang harus berikatan dengan peptida cyclin. Cdk dan cyclin tersebut berbeda-beda bergantung pada pada fase apa sel tersebut. Pada fase DNA masih bereplikasi, cdk dan cyclin yang diperlukan berbeda dengan ketika masuk pembelahan sel. Sebegitu kompleksnya…

Atau pernah saya merenung ya ampun ini tubuh kok bisa ya tanpa saya sadar mengaturnya kalau misal saya puasa, jalur sinyal A yang akan aktif. Sedangkan ketika saya makan, maka jalur sinyal B yang akan aktif. Saya ga perlu secara sadar memerintahkan otak saya dan tubuh saya untuk mengaktifkan jalur-jalur sinyal tersebut. Jangankan signaling pathway tersebut, mata untuk tidak berkedip saja beberapa menit saya ga bisa ngatur. masyaAllah…

Dengan paham betapa kompleks dan betapa sempurnanya master piece bernama manusia ini, seharusnya kita ga sepatutnya berkata da aku mah apa, aku useless, ga berharga, atau ga jadi apa-apa. Ternyata setiap detail penciptaan kita, membuat kita sadar betapa berharga tiap-tiap jiwa ini. Tugas kitalah saat ini mencari apa misi Allah menciptakan kita.

Mengingat kembali betapa detailnya penciptaan seorang manusia juga sepatutnya membuat kita merasa we are really nothing without Allah. Betapa MAHA Sempurna dan MAHA Besar Allah. Sungguh, mudah bagi Allah memberhentikan siklus sel ini tiba-tiba atau mencabut satu protein saja dan akan merusak jalur sinyal dalam tubuh. Ah mudah sekali.. sehingga mengingat ini menjadikan kita harusnya makin berharap hanya pada Allah dan selalu menemukan alasan untuk selalu bangkit.


Leave a comment

Kenapa Kosmetik Perlu Halal Juga?

Saat ini kesadaran untuk menerapkan halal lifestyle makin meningkat dan industri kosmetik menjadi berkembang pesat demi menangkap peluang pasar tersebut. Tapi apa yakin dengan kehalalan produk kosmetik yang kita pakai ? Kosmetik kan ga di makan kenapa perlu dicermati juga kehalalannya ?


Leave a comment

Aku, Triple Chocolate Cake dan COVID-19

Pagi, 27 Februari 2020, setelah mengantar Hamka ke Daycare, aku mampir ke sebuah café untuk membeli kue tart yang rencananya ingin dimakan bersama teman lab ketika student meeting. Hari tersebut bertepatan dengan hari ulang tahunku dan bertepatan dengan hari kamis, jadwal rutin kami berkumpul mengevaluasi satu minggu kebelakang dan merencanakan at least satu minggu kedepan.

Bismillah! Semoga dengan kue ini, jarak antara aku dan kolega-kolegaku ini jadi lebih dekat, suasana jadi lebih cair. Aku bergumam dalam hati. Lalu ku kirim pesan singkat di grup ktalk menginformasikan bahwa aku membawa kue dan bisa kita nikmati bersama ketika nanti pertemuan.

Tak ada yang membalas pesan ini. Sampai suatu waktu, temanku yang lebih lancar berbahasa inggris berbicara padaku.

“Today is your birthday?”

“Ya!!” Ujarku antusias

“But, we are really sorry Yangie, we can’t share food due to this coronavirus outbreak.”

Deg. Sebenarnya ketika mendengar hatiku potek lagi. Usaha pdkt ke teman-teman lab bisa dibilang gagal lagi. Triple chocolate cake berhias mutiara tak jadi dimakan bersama. Ku bawa pulang kembali. Tak apalah.. semoga Allah telah mencatat usaha dan niat. Memang harusnya mah terpatri prinsip memberi tanpa mengharap kembali.

COVID-19 memang lagi jadi topik utama dunia. Apalagi di Korea Selatan yang notabene terjadi ledakan pasien positif hingga pemerintah menaikkan level kewaspadaan sampai level tertinggi. Dengan adanya fenomena virus baru ini, tak pelak beberapa aktivitas menjadi berubah akibat adanya beberapa kebijakan-kebijakan pemerintah sebagai bentuk penanggulangan dan pencegahan. Ketika diberitakan bahwa Korea Selatan menjadi salah satu negara dengan pasien terbanyak, beberapa orang bertanya mengapa aku tak melakukan evakuasi saja ke kampung halaman. Toh, Indonesia pada saat mereka bertanya menyatakan masih zero positives. Tapi setelah banyak berpikir, mengamati dan menimbang, kami sekeluarga memutuskan untuk tetap di Seoul, tetap melaksanakan kewajiban sebagai mahasiswa namun mengurangi intensitas membawa keluarga pergi jalan-jalan.

Alasan terbesar tetap di Seoul selain karena ya memang kudu tetap kerja, juga karena pemerintah Korea Selatan yang cepat tanggap mengendalikan keadaan pasca outbreak coronavirus. Ditambah lagi pulang ke Indonesia dengan perubahan cuaca, perjalanan yang cukup panjang dan mohon maaf belum jelasnya jumlah pasien atau adanya data valid terkait pemeriksaan di Indonesia membuat kami berpikir lebih risky jika pulang kampung. Lalu, apa saja langkah pemerintah Korsel terkait fenomena ini sehingga kami para tetap tenang bekerja tapi juga tetap waspada?


Leave a comment

A Midnight Afterthought

“Rezeki itu…” begitulah ustadzah memulai kajian siang ini. Masih kami merinding membahas berita-berita highlight saat ini.

“adalah apapun yang diberikan atau yang luput dan diambil kembali oleh Allah, namun membawa diri lebih kenal ke Allah, mendekat kepada-Nya, bertambah iman kepada-Nya.” Continue reading


4 Comments

Journey as PhD Mama (I)

Assalamualaykum !

Waduh lapak blog-ku.. maafkan empu-mu ini sebetulnya punya janji untuk menulis minimal seminggu sekali, minimal target tahun ini 15-20 blog posts. Tapi nyatanya…ketika waktu senggang, masih saja asyik habiskan waktu berselancar di media sosial teuing-nyari-naon ketimbang membaca atau menulis. Sedihnya lagi.. sekarang sudah bulan November, penghujung tahun ! lihat lagi target yang dibuat awal tahun, alhamdulillah masih ada yang bisa dipenuhi tapi astagfirullah lebih banyak belumnya ! Demi masa… sesungguhnya manusia berada dalam kerugian (Q.S Al-Asr).

Sebetulnya banyak topik, kisah, inspirasi atau cerita perjalanan yang berseliweran di kepala tapi belum didokumentasikan melalui tulisan (lebih tepatnya belum bisa mengalahkan hawa nafsu untuk selonjoran). Enaknya dari mana nih mulainya ?

Continue reading


Leave a comment

What I Wonder Here ?

“Yangie, besok kuliahnya seminar tamu. datengnya jangan telat yah”

Begitulah teman lab saya mengingatkan saya satu hari sebelum kuliah. Sedih yak rasanya diingetin supaya ga telat, berarti ketauan emang sering telat. Padahal emak bangun paling pagi, sebaik-baik mungkin tetap melakukan apa yang harus dilakukan sesuai amanah yang sedang diemban (yang mungkin di mata Allah masih ya elah males bet dah ni manusia). Continue reading


Leave a comment

Busan dan Semusim Cinta 4: Memetik Hikmah, Merajut Ukhuwah

Alhamdulillah wa syukurillah ! Pertama mengikuti kepanitiaan diluar urusan domestik dan per-akademik-an yang masyaAllah berkesan. Kepanitiaan salah satu acara tahunan Rumah Muslimah Indonesia (Rumaisa) Korea Selatan yaitu Semusim Cinta. Seminar-talkshow 2019 ini adalah yang ke-4. Tiap tahun insyaAllah diadakan dengan tema dan tempat berbeda, pembicaranya pun menyesuaikan tema. Tema Semusim Cinta ke-4 kali ini Inspiring Women: Allah Di Hati, Semangat Mengaji, Berjuang untuk Berbagi dengan mengundang dua pembicara yaitu Ustadzah Wirianingsih (penasaran sama ilmu beliau karena 10 anaknya hafidz Qur’an!) dan artis hijrah Dewi Sandra (ini kali kedua ke kajian ilmu yang diisi beliau tapi tetap.. ada aja hikmah baru yang didapat dari kisah hijrahnya). Continue reading