Yangie Dwi M.P

Life is compared to a voyage, so colour your life colourfully and should come closer to Allah


Leave a comment

Review Buku: Keluarga Kita, Mencintai Dengan Lebih Baik

Assalamualaykum !!!

Bismillah.. kali ini kepengen share in my point of view buku berjudul Keluarga Kita, Mencintai dengan Lebih Baik karya mba Najeela Shihab. Penulis sendiri memang memilih berkontribusi untuk Indonesia melalui pendidikan, terkhusus pendidikan keluarga, karena penulis percaya bahwa mendidik anak yang pertama dan utama adalah dari keluarga. Hingga pada 2012, Najeela Shihab akhirnya mendirikan Keluarga Kita. Dari sini tercetus pula Relawan Keluarga Kita atau Rangkul, sebuah program pemberdayaan keluarga untuk menyebarkan cita-cita Keluarga Kita tersebut ke seluruh pelosok Indonesia. Rangkul tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan diharapkan menjadi wadah positif bagi para orang tua untuk terus belajar dan saling mendukung. Continue reading

Advertisements


Leave a comment

Review Buku: Jatuh Hati pada Montessori

Kali pertama saya mendengar istilah Montessori adalah ketika mengikuti sebuah grup parenting, dimana salah satu programnya yaitu kuliah online. Topik yang saat itu dibahas adalah metode Montessori. Metode ini nampaknya sedang ngetrend, sedang ramai dibuat hastagnya #montessoridirumah oleh para ibu muda era sekarang. Ya ! saya pun penasaran. Saya mengikuti kuliah online secara pasif waktu itu, istilahnya hanya silent reader. Saya mencoba memahami filosofi dan konsep yang ada dalam metode tersebut. Saya pun menarik kesimpulan sederhana dari hasil kuliah singkat tersebut.

“Oh… Montessori itu bagaimana kita ngajarin anak kecil, membebaskan anak untuk ikut kegiatan kita sehari-hari seperti membiarkannya nyendok sendiri, menuang air, membiarkannya mengenal alat-alat rumah tangga pecah belah dengan percaya bahwa itu akan menjadi memorinya dan berguna untuk life skill ketika ia dewasa”

“Oh… Montessori itu dimulai dari belajar menyendok.. sesimpel itu yah.. menuang, menjepit kancing, menggunting, dll”

“Oh… ada materialnya tersendiri yah Montessori..wah materialnya kenapa didesain begini amat… duh ini material dapet drmana ya belinya ?wah modalnya kok mahal L “ gumam saya ketika iseng mengecek harga material-material Montessori di Tokped atau Buka Lapak.

Continue reading


Leave a comment

Minggu ini dan Mengingat Tentang Oxford

Hampir saja sebenarnya saya mengubah rencana untuk tidak singgah di Oxford sebelum menuju tujuan akhir, London, karena tidak ada lagi bus setelah pukul 5 sore dari Manchester ke Oxford. Untungnya masih ada moda lain yaitu kereta yang bisa digunakan walaupun harus merogoh kocek lebih dalam. Demi Oxford, one of my wonder city to visit. Demi Oxford, yang ketika mendengar nama universitasnya saya seakan pungguk merindukan bulan. Demi Oxford, yang saya kenal sebagai salah satu kota tempat berkumpulnya orang-orang cerdas dari segala penjuru dunia. Sebegitukah Oxford ?

Ketika menginjakkan kaki keluar kereta, benar saja, saya merasakan hembusan angin yang berbeda. Saya seperti merasa memang masuk pada kawasan terpelajar penuh penemuan hebat dan persaingan yang positif. Mungkin, mindset ‘wah’ tentang Oxford secara tak sadar sudah terbentuk dibenak saya. Saya kemudian bergegas menuju hostel pelajar yang terletak persis di belakang stasiun. Badan ini sudah harus istirahat agar besok perjalanan mengelilingi kota kecil ini dalam keadaan tubuh dan wajah yang fresh. Namun, sebelum beranjak tidur, saya iseng browsing dan mencari informasi terkait how-to-apply PhD di universitas tertua pertama di UK ini. keinginan untuk belajar lagi selalu ada, apalagi di tempat terbaik seperti ini, saya langsung termotivasi. Namun, disisi lain, segera saya juga merasakan lack of confidence alias minder. Saya juga throw back pada pengalaman yang masih minim mengumpulkan portfolio, atau terjun ke masyarakat secara langsung. Mengingat juga betapa masih minimnya usaha untuk bisa paham suatu ilmu, serta masih banyak hal sia-sia yang dilakukan. Saya selalu mempertanyakan apakah saya bisa? apakah saya pantas ?

A dream will come true, if I believe in, and it is doesn’t matter to be proved.

Oxford, sebuah kota yang entah itu istilahnya ditemukan atau berdiri sekitar tahun 911. salah satu kota tua di Britania Raya, sehingga pantas saja arsitekturnya didominasi klasik namun kokoh dan penuh filosofi. Pertama yang saya kunjungi adalah daerah Radcliffe Square, the Old Schools Quadrangle, yaitu Bodleian Library,  atau biasa dipanggil the Bod. Perpustakaan terbesar dan essential yang berdiri tahun 1602, memiliki koleksi 9 juta buku dan menjadi library terbesar kedua di UK. Sayangnya, saya mengunjungi Oxford ketika libur Christmas sehingga banyak objek-objek must visit di kota ini tutup, atau sepertinya ini pertanda saya harus kembali lagi kesana. Saya juga melewati The Clarendon Building, dibangun awal abad 18 dan pernah menjadi tempat untuk Oxford University Press yang buku-bukunya menarik tapi mikir-mikir untuk beli setelah mengenal adanya e-book gratis (sama ilmu aja pelit ngoi pantes…).

The Bod

The Bod

The Clarendon Building

Salah satu bangunan yang saya suka adalah Radcliffe Camera karena arsitekturnya yang bernuansa seakan berada pada zaman neo-klasik. Bangunan ini dibangun tahun 1737-1749 dan didanai oleh John Radcliffe, yang menjadi pelajar Oxford bahkan ketika baru berusia 13 tahun hingga dinobatkan menjadi salah satu notable doctor di bidang kesehatan. Di lokasi Radcliffe Square ini kita juga akan menjumpai church of St. Mary’s the virgin, gereja official universitas Oxford. Gereja ini dibuka untuk umum, dan kita bisa melihat kota Oxford dari menaranya. karena ini adalah karyawisata mahasiswa, segala hal yang berbayar, bukan menjadi pilihan. So sorry

The Radcliffe Camera

The Radcliffe Camera (pengen masuk Oxford, Mak… !)

Setelah puas menyusuri daerah Catte Street, saya pun berjalan ke arah New College Lane dan melewati Hertford Bridge atau sering disebut Bridge of Sighs, karena arsitekturnya mirip di Venice padahal yang nge-desain tidak bermaksud untuk meniru. Saya kemudian berjalan ke arah university park, melewati college-college, dan melihat sekilas interior kampus terbaik dunia ini walaupun hanya dari balik pagar (hanya church yang buka, dining hall tempat penerimaan para murid Hogwarts oleh kepala sekolah Albus Dumbledore di film Harry Potter tutup).

Bridge of Sighs

Bridge of Sighs

University Park

Arsitektur yang klasik tapi kokoh, Colleges yang ada di University of Oxford

Arsitektur yang klasik tapi kokoh, Colleges yang ada di University of Oxford

Hanya bisa memandangi dari depan gerbang

Hanya bisa memandangi dari depan gerbang

Oxford itu… kota yang nyaman bagi saya pribadi pada pandangan dan injakan kaki pertama. Selain karena kotanya teduh (tidak padat tidak pula terlalu sunyi), penuh motivasi dan inspirasi, juga karena mudah menjumpai tempat sholat. Mendengar azan secara langsung di mushola Bangladesh dan menunggu jamaah, sungguh suatu kedamaian tersendiri walau hanya sebentar. Saya juga melihat beberapa start up bisnis yang lebih kreatif di Oxford. Mungkin karena Oxford adalah kota berkumpulnya anak muda, sehingga banyak pula ide-ide baru nan segar.

Cahaya keemasan dari matahari

Cahaya keemasan dari matahari

Hal yang paling berkesan bagi saya ketika mengunjungi Oxford adalah ketika memasuki Museum of History of Science. Saya hanya punya waktu 30 menit di museum ini karena kami harus segera menunggu di stasiun supaya tidak ketinggalan kereta. Langsung saja saya memprioritaskan untuk menyusuri lantai basement terlebih dahulu, dimana dipamerkan penemuan-penemuan kesehatan yang menjadi pemicu berkembang pesatnya ilmu pengetahuan. Sebut saja yang menjadi daya tarik saya di tempat ini adalah sejarah ditemukannya Penicillin, antibiotik golongan beta laktam, salah satu nenek moyangnya antibiotik. Penicillin pertama kali ditemukan oleh Alexander Fleming (ilmuwan Skotlandia lho :D) dan tim yang dibentuk di Oxford ini memberikan kemajuan tentang aktivitas Penicillin secara in vivo. Selain itu, saya beralih memandangi 2 lemari berisi guci-guci nama latin obat (fotonya post saya yang ini https://yangiedwimp.wordpress.com/2015/01/21/reseptor-farmakologi/). Sebagai seorang farmasis, tentulah saya langsung bisa menebak nama-nama latin tersebut refer to what drugs. Saya menyadari bahwa ilmu yang saya geluti sata ini, farmasi, sungguh esensial dan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Untuk koleksi-koleksi kedokteran, seperti alat bedah zaman kuno, saya hanya melihat sekilas. Saya hanya tidak ingin kehilangan waktu agar bisa juga mengeksplor lantai dua.

Health Science

Health Science

Penicillin, salah satu penemuan fenomenal yang  menjadi titik awal berkembangnya Antibiotik

Penicillin, salah satu penemuan fenomenal yang menjadi titik awal berkembangnya Antibiotik

Di lantai 2 saya hanya berkesempatan melihat objek Astrolobe, yang digunakan oleh astronom-astronom zaman dulu untuk menentukan tanggalan dan penunjuk arah. Yang membuat saya sangat tertegun dan terdiam sejenak adalah penemu-penemu awalnya sebagian besar adalah mereka yang hidup zaman kekhalifahan islam yang saat itu sedang menguasai Konstantinopel, Persia, dan Andalusia untuk bisa menentukan arah Qibla. di museum ini dijelaskan secara detail bagaimana hubungan ilmu pengetahuan dan islam, koneksi antara sciences dan seni dalam kehidupan muslim yang dipamerkan melalui koleksi keramik,  logam, dan manuskrip-manuskrip abad pertengahan.

Terkesima dengan Astrolobe yang ditemukan bahkan dari abad ke 10 oleh ilmuwan Islam

Terkesima dengan Astrolobe yang ditemukan bahkan dari abad ke 10 oleh ilmuwan Islam

Nah, apa hubungannya dengan minggu ini ?

Minggu ini, saya merasa apa yang saya pelajari sepertinya tidak menempel dalam otak saya, bahkan contoh kecil adalah ketika diskusi tentang pemilihan obat. Rasanya, kok saya sudah belajar tapi tidak juga bisa menjawab. Minggu ini, rasanya saya seakan tidak tahu sebenarnya harusnya berkontribusi dimana di masa depan, saya seperti masih banyak berbicara ketimbang karya nyata, cepat merasa puas dan tidak konsisten terhadap suatu hal baik. Saya seperti tidak memiliki kapasitas. Seketika itu juga saya di’tegur’ ketika saya membaca wawancara Humans of New York dengan Obama.

“But the thing that got me through that moment, and any other time that Ive felt stuck, is to remind myself that it’s about the work, the effort. Because if we are worrying about ourselves, if you’re thinking : Am I succeeding ? am I in the right position ? am I appreciated (valued) ? Then you’re going to end up feeling frustrated and stuck. But if you can keep it about the work, you will always have a path. there is always something to be done.”

Mengenang Oxford, mengenang tiap sudut Museum History of Science telah mengembalikan semangat saya kembali. Begitulah para sahabat Nabi, dan beliau-beliau yang berkontribusi zaman kejayaan Islam meninggalkan karya-karya hebat hanya untuk penilaian Allah, yang bekerja dan hasil akhir adalah hadiah dari-Nya. Maka patutlah mereka bergembira di hari akhir, mengalir pahala tak putus karena ilmu mereka yang terus digunakan oleh generasi-generasi saat ini. Sedang saya? Membandingkan usaha saya saat ini dengan mereka, rasanya jauh sekali. But, deep in my heart, I promise to just think about work hard, pray hard, ikhlas, be grateful and be patient, and maximize my contribution to educate future generation. 🙂

“Based on the experience of history and civilization of mankind, which is more important for Muslims today, to no longer busy discussing the greatness that Muslims achieved in the past, or debating who first discovered the number zero, including the number one, two, three and so on, as the contribution of Muslims in the writing of numbers in this modern era and the foundation and development of civilizations throughout the world. But how Muslims will regained the lead and control of science and technology, leading back and become a leader in the world of science and civilization, because it represents a real achievement.” – BJ Habibie

I love Oxford

I love Oxford


Leave a comment

Case Study – Chronic Kidney Disease and T1DM

CASE STUDY CHRONIC KIDNEY DISEASE- Part 1

Halo teman-teman, hari ini adalah hari pertama dibentuknya grup WA alumni farmasi ITB 2007 yang memiliki minat di farmasi klinis. Terimakasih kepada Yovita Diane aka Tiesa yang menginisiasi, baca blognya http://pinkishsailor.blogspot.co.uk. Dengan hadirnya grup ini, harapannya setiap anggota dapat saling berbagi ilmu, mengingat kembali teori yang didapat selama kuliah, menambah wawasan, dan semakin mengasah kemampuan. Belajar dari kasus lapangan juga diharapkan menjadi cara yang paling efektif untuk mencapai harapan-harapan adanya grup ini. Semoga kedepannya, farmasi klinis semakin kompeten untuk menjalani peran nyata di dunia klinis, demi tercapainya pelayanan kesehatan yang paripurna.

Oiya post ini adalah hasil diskusi dalam  grup, supaya tidak hilang maka saya mencoba untuk selalu membuat rangkumannya. Tempatnya juga masih di blog personal, ini cuma sementara teman-teman tenang… lagi berusaha untuk membuat forum khusus case study tersebut. Tanpa bermaksud mengambil alih peran tenaga kesehatan lainnya, pemecahan kasus tersebut lebih menitik beratkan pada pharmacist’s view point sebenarnya. Contohnya, apakah dosisnya rasional, apakah obatnya tepat, dll. Tapi, untuk memutuskan terapi kan juga perlu prinsip dasarnya (nasib apoteker belajar semuanya dari tubuh manusia sampe rancang pabrik).

Nah kasus pertama ini tentang Chronic Kidney Disease. selamat ‘menikmati’

Miss SB, 27 year old, Female. Presenting complaint : history of nausea, vomiting, general malaise, decrease in urine output recently, weight gain of 5 kg over the past two months. She had T1DM (insulin dependent)

Hasil Lab :

Na 143 mmol/L

K 6.5 mmol/L

Cr 530 micromol/ L

Urea 26.7 mmol/ L

Glucose 12.2 mmol/L

BP 158/ 110 mmHg

PO 4 2.5 mmol/ L

Ca 2 mmol/L

Hb 7.8 g/dl

Diagnosed : CKD

Sekilas Tentang Ginjal

Organ tubuh manusia yang menjalankan fungsi sebagai organ ekskresi. Ginjal mengeluarkan zat sisa yang komposisinya berupa adalah 90% air, elektrolit (Na+, Cl. K+), urea, creatinine, ion-ion, serta senyawa inorganic dan organic lainnya. Selain itu, ginjal esensial berfungsi menjaga tekanan darah dengan mengeluarkan cairan lebih dalam tubuh, serta karena adanya hormon yang berada diginjal yang berperan dalam mengontrol tekanan darah (aldosterone, renin). Ginjal juga berperan mencegah anemia karena tempat produksi hormon EPO yang menstimulasi sumsum tulang untuk memproduksi sel darah merah. Ditambah, di ginjal pula provitamin D diubah menjadi bentuk aktif, vitamin D, yang membantu menjaga kalsium dalam tulang dan keseimbangannya dalam darah. Singkat kata, ginjal esensial menjaga keseimbangan elektrolit pada batas normal di tubuh.

Orang-orang yang memiliki penurunan fungsi ginjal atau penyakit ginjal lainnya memiliki resiko yang lebih tinggi untuk terkena cardiovascular disease, sehingga diperlukan identifikasi dini yang tepat untuk mencegah progresifitas kerusakan atau penurunan fungsi ginjal. Kondisi CKD dapat diidentifikasi dari test darah atau urin. Pada kasus diatas, kondisi ginjal pasien diketahui melalui tes darah.

Assesing Renal Functions :

Test Normal Range
Na 143 mmol/ L 135 – 145 millimoles/liter (mmol/L)
K 6.5 mmol/L 3.5 – 5.0 millimoles/liter (mmol/L)
Cr 530 micromol/L 45 to 90 micromol/L
Urea 26.8 mmol/L 2.5 to 7.1 mmol/L
Glucose 12.2 mmol/L Before meals : 4-7 mmol/L2 hrs after meals : <9 mmol/L
BP 158/110 mmHg 120/80 mmHg
PO4 2.5 mmol/L 0.8 to 1.4 mmol/L
Ca 2 mmol/ L  2.25-2.5 mmol/L
Hb 7.8 g/dl 12-16 g/dL

Creatinine, urea, ion fosfat dan kalium yang meningkat, ion calcium  yang menurun, disertai tekanan darah yang meningkat dan berat badan naik, ditambah lagi frekuensi urinasi menurun menjadi ciri klasik pasien yang didiagnosis mengalami penurunan fungsi ginjal.

Berikut interpretasi dan penjelasan dari hasil laboratorium pasien SB :

  • Na+ berada pada rentang kadar normal, pertanda bukan hipertensi essential
  • K+ meningkat, K+ adalah salah satu elektrolit yang keluar dari tubuh melalui urin, penurunan kerja ginjal dan penurunan frekuensi urinasi bisa menyebabkan peningkatkan ion K dalam darah
  • Creatinine dan Urea meningkat sebagai pertanda khas pada pasien yang memiliki gangguan pada ginjal karena senyawa tersebut adalah hasil metabolisme yang dikeluarkan melalui urin
  • Haemoglobin yang rendah menunjukkan indikasi adanya gangguan produksi eritrosit atau sekresi EPO di ginjal
  • Glucose meningkat, pasien mengidap diabetes tipe 1.
  • Posfat juga elektrolit yang dikeluarkan melalui urin, penurunan kerja ginjal menyebabkan peningkatan kadar posfat dalam darah. Posfat dalam kesetimbangan dengan kalsium tubuh. Ketika kadar posfat berlebih, kadar kalsium dalam darah akan menurun karena tidak cukup untuk mencapai kesetimbangan dengan posfat (menurun). Oleh karena itu, hypocalcemia menjadi sinyal stimulasi sekresi hormone PTH yang akan menguraikan kalsium dalam tulang ke darah. Inilah salah satu penyebab general malaise yang dirasakan oleh pasien.
  • Perlu perhitungan Glomelurus Filtration Rate (GFR) untuk mengetahui stage CKD pasien SB. Salah satu target terapi pasien CKD adalah mencegah progresifitasnya. Perhitungan GFR dapat menggunakan metode Corkford dengan menggunakan BMI personal pasien (metode lebih baik karena tergantung personal kondisi pasien, oleh karena itu diperlukan data berat badan pasien), atau metode MDRD menggunakan average BMI for adults /1.73 m2. Bila menggunakan metode MDRD, pasien sudah masuk CKD stage 5

Baca juga : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2879308/

stages of CKD

stages of CKD

  • Glucose darah yang meningkat dikarenakan pasien mengidap diabetes tipe 1 insulin dependent
  • Dalam manajemen terapinya, pasien CKD juga sering disertai pemberian terapi vitamin D, kalsium, kalsium karbonat sebagai posfat binder, serta asam folat untuk stimulasi pembentukan Hb.
  • besar kemungkinan pasien tersebut mengalami CKD sebagai komplikasi dari diabetes tipe pertama yang diderita.

Terapi Pasien Chronic Kidney Disease

Pasien tersebut kemudian diberikan terapi IV Furosemide, apakah rasional dan dosis yang rasional seperti apakah ? Lalu bagaimana kita mengobata hiperkalemia? Pasien juga diresepkan kalsium karbonat, bagaimana dosis rasionalnya ? adakah alternatif lainnya.

Untuk menjawab semua ini, mari kita pahami terlebih dahulu tujuan/ target terapi dan guideline terapi CKD.

Kita disini sepakat penanganan terkait pharmaceutical untuk pasien tersebut adalah mengeluarkan cairan dan mencegah progresifitas kerusakan ginjal. Kemudian kita perlu juga menurunkan tekanan darah yang kenaikannya berhubungan dengan fungsi ginjal. Tekanan darah perlu dikontrol dibawah 140/90 mmHg (http://nkdep.nih.gov/resources/ckd-diet-assess-manage-treat-508.pdf), optimal 130 mmHg (SIGN guideline) untuk memperlambat penurunan GFR dan mereduksi proteinuria, serta perlu menjaga keseimbangan elektrolit pada tubuh pasien.

Penggunaan Diuretik Pada Pasien CKD

Diuretik berguna pada manajemen terapi pasien dengan CKD. diuretik akan mereduksi volume cairan berlebihan dalam tubuh dan sebagai agen anti hipertensi. selain itu, ia juga akan mempotensiasi efek ACE inhibitor, ARBs, dan agen antihipertensi lainnya. Pemilihan diuretik disesuaikan dengan level GFR dan volume Extra Cellular Fluid (ECF) yang perlu direduksi. Udem atau volume ECF adalah ketika pasien mendapatkan 2-3 kg peningkatan berat badan.

Tubule Transport System and Diuretics Mechanism of Action

Tubule Transport System and Diuretics Mechanism of Action

 baca juga : http://www.cvpharmacology.com/diuretic/diuretics.htm

Kuatnya efek diuresis juga berkaitan dengan tempat kerjanya. Loop diuretic diberikan 1 atau 2 kali sehari pada pasien yang GFR<30 ml/min/1.73m2 (CKD stage 4-5). Thiazide juga masih membutuhkan fungsi ginjal untuk bisa aktif sebagai diuretik. Diuretik thiazide yang diberikan 1 kali sehari direkomendasikan untuk pasien yang memiliki GFR >= 30 mL/min/1.73m2 (CKD stage 1-3). Loop diuretik dapat dikombinasikan dengan thiazide dan diberikan pada pasien yang memiliki volume ECF dan udem berlebih serta pasien yang resisten dengan terapi Loop diuretik, terutama pada heart failure, namun risk dan benefit rasio perlu dipelajari lebih lanjut (http://content.onlinejacc.org/mobile/article.aspx?artocleid=1143853). Namun pada kasus ini, pasien tidak memiliki riwayat heart failure.

Diuretik hemat kalium (Amiloride) bekerja menghambat pengeluaran kalium, dan tentu perlu diperhatikan bila pasien mengalami hiperkalemia, pasien CKD stage 4-5, pasien yang juga menerima terapi ACE Inhibitor atau ARBs.

Oleh karena itu, disini kemudian apoteker merekomendasikan untuk pasien yang memiliki GFR < 15 ml/min (CKD stage 5) dan hiperkalemia maka obat adalah IV furosemide 2 hari sekali.

Glukosa darah perlu dikontrol untuk membantu memperlambat progres CKD (DCCT,1993; UKPDS,1998) penurunan GFR, metabolisme ginjal terhadap insulin dan oral diabetes akan menurun pula sehingga glukosa darah dapat meningkat (Snyder and Berns, 2004).

Terapi Hiperkalemia Akut

Kemudian kita berlanjut pada terapi untuk menurunkan kadar kalium pasien.

Forum pun diselesaikan sampai sini dulu ya soalnya yang di Indonesia udah pada ngantuk…to be continued ^^


2 Comments

Mari

Mari kita belajar untuk selalu menjaga hati jika kita berkarya atau melakukan sesuatu bukan untuk penilaian makhluk, tapi hanya mengharap penilaian Allah

Mari kita belajar untuk lebih mengingat dosa sehingga jadi cambuk lebih banyak lagi berbuat kebaikan

Mari kita belajar untuk lebih peka terhadap sekitar

Mari kita belajar untuk tidak mengingat-ngingat kebaikan

Mari kita belajar untuk mengingat bahwa kita tidak berjasa dalam pencapaian seseorang/ membantu orang, kita hanyalah media numpang lewatnya rezeki yang Allah titipkan untuk seseorang.

Mari kita belajar untuk tidak berdebat dan uji kapasitas, tapi saling bahu membahu berusaha menyelesaikan masalah dan menyodorkan solusi

Mari kita belajar untuk memberikan suatu informasi berdasarkan data/ fakta/ evidence yang ada

Mari kita belajar untuk berkarya dalam diam

Mari kita belajar dan mengambil hikmah hari ini

Mari

Main Library UoG

03-02-2015 22:22


2 Comments

Keep Calm and Love December

Assalamu’alaykum

BIsmillah !

December, let me say ! campur-aduk feelings ! particularly fear, heart beats so fast, feeling so happy and grateful, suddenly getting high enthusiasm, sometime tough and must keep fighting, yet a feeling like ‘just Allah do the rest’.

I was worried about my first exam in English speaking country. My examinations’ mark in this term. obviously, these will not be involved in final mark, they called it formative exam. it means, these exams just training session for new students to have sense and understand how exam period at UoG. However, I promised, I don’t want to waste every single time happened here. I will do as best as I can. So, even just formative exam, I decided to study hard. Ive tried to utilise all my capacity to get deep understand about every subject that will be examined. I considerably think, I should prepare for final exam start from now !

Okay well, you will see many types of students in your class. First, people who decided to be brave and face all exams whether they have concerned on studying or not, whether they answered seriously or not. Me, congratulation, attended all exams, although so many distractions I had when I was studying !!! for example text messages, social medias, cheese cakes, cooking, novels, or watching movies. fiuh..T_T. Second, people who attended a half of exam period, depend on their favourite subjects. the third, people who was panic in the beginning of exam period, but, unfortunately, they didn’t attend a whole exams. the fourth, people who is prefer to come to their hometown and enjoy holiday whether studying and wasting ur energy just for try out session. it is your choice, nothing to lose.

I also had feeling like “pasrah” in the beginning of my exam period. nope, not because I gave up on studying, but because I felt ‘let it go” when someone tried (again) to talk with my mom to getting married. I don’t know how many efforts we have done. we just try and try again. We don’t know what time is the best for Allah to let us because we are ready for passing every challenges or obstacles on marriage life. we just do not want to give up if we still want to try again. In this day, I really pray with no hard feeling to be granted. i remembered, I pray with no word. and the tears is my prayer. I pray and pray then suddenly my mom said yes ! it is like a dream. and that time, i can’t stop crying. I cried along the day. and I am so grateful. alhamdulillah. However, it is still long journey, all we can do now is keep our ‘niat’ to step into very different life. yes I could be happy, but the other hand, I absolutely should ready for every chances that can be happened. hopefully it is gonna be alright until the right time I can deserve it :).

Setiap keburukan selalu dibalas kebaikan, sudah sepantasnya kita bekerja hanya untuk Allah :’) ❤

Alhamdulillah :’). I will remember this day


Leave a comment

Allosteric Modulation, Strategi Dalam Pengembangan Obat Baru di Era Modern

Mari kita menulis tentang ilmiah kali ini ! to be honest, ini adalah tugas yang aku kumpulkan untuk pemenuhan tugas essay pelajaran Principle of Pharmacology yang bertemakan “apakah classical pharmacology/ reseptor masih diperlukan dalam pengembangan obat baru di abad ke 21 ini ?”

Aku bisa mengangkat berdasarkan penyakit, bandingkan obat yang dahulu dan saat ini. Atau berdasarkan target reseptor, misal G-protein bagaimana pengembangan obatnya, apakah masih diperlukan. bisa juga membahas intervensi baru dalam pengembangan obat, mengingat saat ini juga sudah masuk ke zaman post-genomik. setelah melewati pertapaan selama 2 minggu lamanya (lama amat), akhirnya kau memutuskan untuk membahas topik tersebut dengans spesifik ke Allosteric modulation. apakah itu allosteric modulation ?

Kenapa sih obat bisa kemudian memberikan efek dalam tubuh kita ? yap, ketika obat masuk kedalam tubuh dan diserap oleh darah menuju sel tempat dia bekerja, obat tersebut akan berikatan pada satu molekul dalam sel tubuh yang dikenal dengan nama reseptor. Term reseptor itu sendiri pertama kali dikenalkan oleh Langley dan Ehrlich periode 1870-1910. semenjak ditemukannya bahwa reseptor ini berperan penting dalam interaksi dengan obat, banyak penelitian akhirnya berkembang untuk meneliti tentang ikatan reseptor-obat hingga akhirnya menghasilkan respon terapeutik. adalah Clark kemudian memperkenalkan konsep receptor occupation theory, dimana efek farmakologi berkaitan dengan jumlah reseptor yang teraktivasi. sehingga, konsentrasi maksimum obat bisa diketahui jika semua reseptor teraktivasi (Clark, 1937).

Teori kemudian direvisi oleh Ariens, Stephenson dan peneliti-peneliti lainnya di pertengahan abad ke 20 berdasar konsepsi bahwa sebuah obat dapat mencapai efek maksimal walaupun mengaktivasi sejumlah kecil proporsi reseptor. ada dua parameter essensial dalam interaksi antara obat-reseptor, yang pertama adalah afinitas (kemampuan obat berikatan dengan reseptor), dan efikasi (kemampuan ikatan tersebut memberikan respon farmakologi). dari sini juga kita mengenal dengan istilah partial agonist (Raffolo, 1982; Stephenson, 1997). nah… pendekatan-pendekatan diatas hanya menganalisa hubungan antara obat dan reseptor pada sisi aktif, seperti kalau kita bayangkan adalah kunci dan gembok.

Ternyata, sebuah reseptor bisa teraktivasi dari hasil interaksi antara obat dengan sisi selain sisi aktifnya, atau kita kenal kemudian dengan istilah allosteric site. mengetahui hal ini, kemudian penelitian mengarah ke penciptaan obat yang mempengaruhi sisi allosterik ini, yang juga menandakan bahwa itu berarti reseptor masih memegang peranan penting dalam pengembangan obat baru. Ada struktur dalam reseptor yang berbeda dari sisi aktif tapi juga akan memberikan efek bila berikatan dengan ligand (obat), sehingga muncullah obat-obat allosteric modulator.

allosteric modulator bekerja dengan mengubah konformasi (bentuk) reseptor untuk dapat selanjutnya memberikan efek. dia dapat bekerja independen atau bekerja sama dengan ligand dalam tubuh yang berikatan dengan sisi aktif reseptor (seperti neurotransmitter, hormon, atau molekul kecil tubuh lainnya yang mengatur fisiologi tubuh). ikatan obat allosterik ini akan membentuk seakan “reseptor baru” dengan sifat yang baru juga (Wang, 2009). dengan adanya obat yang berikatan dengan sisi lain dari aktive site bisa meningkatkan/ mereduksi/ menghambat/ menginduksi respon yang biasa dihasilkan oleh reseptor ketika berikatan dengan natural ligand (endogenous ligand).

nrd4052-f1

Allosteric drugs akan memodulasi sinyal yang dihasilkan oleh natural agonist (orthosteric agonist) dengan reseptor (contoh disini G-protein coupled receptor/ GPCR). Positive allosteric modulator akan meningkatkan sinyal, negative allosteric ligands akan mereduksi, sedangkan neutral allosteric ligands tidak akan mengubah sinyal. source : Wootten et al., 2013. doi:10.1038/nrd4052

Kenapa jadi ada allosteric modulation drugs ? obat-obat yang langsung berikatan pada sisi aktif reseptor ternyata memberikan efek samping yang merugikan atau terlalu ekstrim, selektifitasnya terbatas, juga menyebabkan resistansi, toleransi atau dependensi terutama ketika diberikan dalam kurun waktu yang lama untuk pengobatan kronis, atau bahkan lack of efficacy (Wenthur, 2014). misal nih, Ketamin, obat yang bekerja di reseptor NMDA (banyak di otak) yang digunakan sebagai obat anestetik ternyata memberikan efek samping yang cukup merugikan seperti efek pada sistem cardiovascular, toksisitas sistem syaraf pusat, dan halusinasi/ efek psychomimetic (Olney et al, 1991).

Nah, allosteric drugs memberikan beberapa keuntungan dibandingkan orthosteric/ active site drugs, yaitu :

1. tidak punya intrinsic affinity. apa itu maksudnya ? dia tetap dapat menginduksi, menghambat, meningkatkan atau mereduksi fungsi normal reseptor ketika berikatan dengan natural ligand, daripada mengaktivasi atau menghambat secara langsung (van Westen 2014; Kenakin, 2012). salah satu contohnya obat yang diteliti di muscarinic acetylcholine receptor (mAChR). allosteric ligand M1 (AC-42) memiliki efek penghambatan incompletely terhadap ikatan antara antagonist MNS dengan sisi aktif reseptor, ketimbang memblok aktivitas reseptor tersebut secara langsung (Langmead et al, 2006).

2. efek allosteric modulator juga saturable, artinya ketika berikatan dengan reseptor, ga ada lagi efek selanjutnya yang bakal terjadi hasil dri ikatan mereka tersebut. ada yang menganalisa, berarti bisa diberikan dalam dosis tinggi tanpa takut over stimulating atau overinhibiting

3. dari segi sifat fisikokimianya, allosteric drug lebih baik karena punya berat molekul yang lebih rendah dan lebih lipofilik. hal ini mengikuti bahkan lebih baik dari aturan lipinski’s rule untuk desain obat baru, sehingga memudahkan  dalam hal formulasi obat. sifat fisikokimia ini juga yang membuat allosteric drugs punya afiinitas yang rendah tapi memberikan effikasi tinggi (Nussinov, 2013)

4. allosteric drug, di banding classic active-site obat adalah subtype-selectivity. misal pada obat benzodiazepine yang digunakan untuk pengobatan stress disorders dan terbukti bekerja sebagai allosteric modulator. benzodiazepine memiliki subtype-selectivitas yang pada reseptor GABA (dalam sistem saraf pusat), dimana ia selektif hanya memberikan efek pada GABA alpha subtype 1,2,3,5; GABA beta; dan GABA gamma subtype 2, dan tidak menunjukkan efek pada subtype GABA lainnya (van Westen, 2014; Coon, 2009; Bridges TM, 2008; Mohler et al., 2002).

Mekanisme obat allosteric modulator tidak hanya meningkatkan potensi dari natural ligands, tapi juga punya probabilitas meningkatkan konsentrasi untuk mencapai efek maksimal. sebagai contoh pada reseptor GABA di Chinese Hamster Ovary (CHO), dengan adanya allosteric enhancer CGP7930, konsentrasi agonist yang berikatan pada sisi aktif reseptor GABA harus ditingkatkan (Urwyler, 2001).

Riset-riset yang meneliti allosteric modulator semakin meningkat dan diteliti pada setiap tipe reseptor. sisi allosteric sudah banyak ditemukan di reseptor-reseptor ionotropik dan metabotropik, tapi masih sedikit yang ditemukan di nuclear reseptor (reseptor inti sel) dan enzyme (terutama protease, kinase, dan phospolipase) (van Westen, 2014). kebanyakan saat ini penelitian mengarah untuk mendapat obat-obat yang ditujukan untuk terapi imun, kanker, genetik, dan penyakit trend abad saat ini seperti Alzheimer’s Disease (AD), parkinsons, dan CNS disorders lainnya.

Receptor target Allosteric Compounds Indications or Potential Functions
Ligand-gated ion channel
GABAa receptor Benzodiazepine Anxiety, sedative, hypnotic
Nicotinic Acetylcholine receptors Gallanthamine, Ivermectin Alzheimer’s disease (AD), anti-parasitic
Alpha 4b2 nAChR Varenicline (Pfizer),  Lobeline, ABT-089 (abbott),  TC-1734 & TC-5214 (Targacept), S-38232 (Servier), ABT-594 (Abbott) Smoking cessation, cognitive dysfunction, Alzheimer’s disease (AD), depression
Alpha 7 nAChR GTS-21 (CoMentis), MEM-3453/R-3487 (Memory/Roche), AZD-0328 (Astra Zeneca), TC-5619 (Targacept), ABT-107 (Abbott), EVP-6124 (EnVivo) Schizoprenia, Alzheimer’s disease (AD), Cognitive disorders
NMDA Receptor Memantine, Glycine, Polyamines, ifenprodil, zinc Alzheimer’s disease (AD)
G-protein-coupled receptors
Calcium-sensing receptor Cinacalcet (Amgen) Hyperparathyroidsm (marketed)
Chemokine CXCR1/CXCR2 Reparixin (Dompe) Reperfusion injury in lung/ kidney transplantation (phase II/III)
Chemokine CCR5, CXCR4 Maraviroc (Pfizer) HIV AIDS (marketed)
Glutamate mGlu1 CPCCOEt, JNJ16259685 Neuropathic pain, Fragile X, anxiety/ stress disorders, addiction
Glutamate mGlu2-selective ADX71149 (Addex & Ortho McNeil-Janssen) Schizophrenia (phase II)
Glutamate mGlu3-selective VU0463597/ML-289 Depression
Glutamate mGluR 2/3 AZD8529 (Astra Zeneca) Schizophrenia (phase II)
Glutamate mGluR 4 PHCCC, VU0155041, VU0364770, ADX88178, LuAF21934, Lu AF32615 Neuroinflammation, neuroprotective agents, Parkinson’s disease (PD), schizoprenia
Glutamate mGluR 5 AFQ056 (Novartis) Fragile X (phase II), Parkinson’s disease levodopa-induced dyskenia (PD-LID)
Dipraglurant (Addex) Parkinson’s disease levodopa-induced dyskenia (PD-LID), Dystonia (phase II)
STX107 (Seaside Therapeutics) Fragile X, Autism (phase II/III)
RO4917523 (Hoffmann-La Roche) Depression, Fragile X (phase II)
Fenobam (Neuropharm) Fragile X (phase II)
ADX10059 Gastro-esophageal reflux
Glutamate mGluR 7 MMPIP, AMN082 Anxiety, depression
Glutamate mGluR 8 DCPG Parkinson’s disease, anxiety
Muscarinic M1 Brucine Alzheimer’s disease (AD)
Muscarinic M4 Tropicamide, Thiochrome, MI293 Dystonia, Parkinson’s diseae, Alzhemeir’s disease (AD), schizoprenia
Muscarinic M5 VU0238429 Anxiety disorders, Parkinson’s disease, schizoprenia
Purine P2Y12 Ticagrelor Antiplatelets (marketed)
Serotonin 5-HT Oleamide Anxiety disorders
Prostaglandin F receptor (FP) PDC31 (THG113.3) Pretern labor and primary dysmenorrheal

Cinacalcet, salah satu yang sudah di launching dan digunakan luas untuk terapi hiper-paratiroid dan paratiroid karsinoma, bekerja sebagai positive allosteric modulator di calcium sensing receptor (CaSR) sehingga lebih sensitif untuk berikatan dengan kalsium. dia secara efektif dapat menekan sekresi paratiroid yang disebabkan oleh rendahnya kadar kalsium dalam darah (Coon, 2009).

Obat lain yang menjadi salah satu penemuan yang berarti adalah obat dengan target reseptor NMDA yaitu Memantine. Memantine digunakan untuk terapi Alzheimer’s saat ini. memantine bekerja sebagai uncompetitive NMDAR, bekerja low affinity dengan reseptor tapi high efficiency, dia bekerja voltage-dependent. jadi bekerja ketika glutamate (Sebagai natural neurotransmission) diproduksi di otak dan berikatan dengan NMDAR terlalu berlebihan, tapi efeknya rendah ketika produksi glutamat dalam kondisi normal. hal inilah yang membuat berkurangnya efek samping jika menggunakan allosteric modulator dan tetap memberikan efek tanpa menganggu sistem normal fisologis tubuh.

Untuk kedepannya, penemuan allosteric modulator akan berhubungan dengan penelitian struktur dan fungsi spesifik reseptor, serta penemuan mekanisme siganlling cascade yang berperan setelah aktivasi reseptor hingga memberikan respon. secara umum, riset tentang allosteric drugs ini bergeser ke arah menemukan senyawa yang lebih spesifik dan selektif terhadap subtype tertentu dari reseptor. ditambah, pengembangan ilmu dan teknologi berkaitan dengan medicinal chemistry (pendekatan komputasi), teknik molekular biologi dan informasi genetik akan memberikan kontribusi dalam peningkatan desain obat allosterik, yang ditujukan untuk mendapatkan obat yang selektivitasnya tingga, efikasi yang lebih baik, meminimalisasi efek samping, tapi tanpa menginterferensi fisiologi normal manusia.

References :

Ariens, E. J. (1954). “Affinity And Intrinsic Activity In The Theory Of Competitive Inhibition .1. Problems And Theory.” Archives Internationales De Pharmacodynamie Et De Therapie 99(1): 32-49.

Bridges, T. M. and C. W. Lindsley (2008). “G-protein-coupled receptors: From classical modes of modulation to allosteric mechanisms.” Acs Chemical Biology 3(9): 530-541.

Chen, H.-S. V. and S. A. Lipton (2006). “The chemical biology of clinically tolerated NMDA receptor antagonists.” Journal of Neurochemistry 97(6): 1611-1626.

Christopoulos, A. (2002). “Allosteric binding sites on cell-surface receptors: novel targets for drug discovery.” Nat Rev Drug Discov 1(3): 198-210.

Conn, P. J., et al. (2009). “Allosteric modulators of GPCRs: a novel approach for the treatment of CNS disorders.” Nature Reviews Drug Discovery 8(1): 41-54.

Galandrin, S., et al. (2007). “The evasive nature of drug efficacy: implications for drug discovery.” Trends in Pharmacological Sciences 28(8): 423-430.

Kenakin, T. (2007). “Allosteric theory: Taking therapeutic advantage of the malleable nature of GPCRs.” Current Neuropharmacology 5(3): 149-156

Kenakin, T. (2011). “Functional Selectivity and Biased Receptor Signaling.” Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics 336(2): 296-302.

Kenakin, T. P. (2012). “Biased signalling and allosteric machines: new vistas and challenges for drug discovery.” British Journal of Pharmacology 165(6): 1659-1669.

Khoury, E., et al. (2014). “Allosteric and biased g protein-coupled receptor signaling regulation: potentials for new therapeutics.” Frontiers in endocrinology 5: 68-68.

Langmead, C. J., et al. (2006). “Probing the molecular mechanism of interaction between 4-n-butyl-1- 4-(2-methylphenyl)-4-oxo-1-butyl -piperidine (AC-42) and the muscarinic M-1 receptor: Direct pharmacological evidence that AC-42 is an allosteric agonist.” Molecular Pharmacology 69(1): 236-246.

Mohler, H., et al. (2002). “A new benzodiazepine pharmacology.” Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics 300(1): 2-8.

Nickols, H. H. and P. J. Conn (2014). “Development of allosteric modulators of GPCRs for treatment of CNS disorders.” Neurobiology of Disease 61: 55-71.

Nussinov, R. and C.-J. Tsai (2013). “Allostery in Disease and in Drug Discovery.” Cell 153(2): 293-305.

Olney, J. W., et al. (1991). “NMDA ANTAGONIST NEUROTOXICITY – MECHANISM AND PREVENTION.” Science 254(5037): 1515-1518.

Ruffolo, R. R. (1982). “IMPORTANT CONCEPTS OF RECEPTOR THEORY.” Journal of Autonomic Pharmacology 2(4): 277-295.

Stephenson, R. P. (1997). “A modification of receptor theory (Reprinted from Brit J Pharmacol, vol 11, pg 379, 1956).” British Journal of Pharmacology 120(4): 106-120.

Taly, A., et al. (2009). “Nicotinic receptors: allosteric transitions and therapeutic targets in the nervous system.” Nature Reviews Drug Discovery 8(9): 733-750.

Urwyler, S., et al. (2001). “Positive allosteric modulation of native and recombinant,gamma-aminobutyric acid(B) receptors by 2,6-Di-tert-butyl-4-(3-hydroxy-2,2-dimethyl-propyl)-phenol (CGP7930) and its aldehyde analog CGP13501.” Molecular Pharmacology 60(5): 963-971.

van Westen, G. J. P., et al. (2014). “Chemical, Target, and Bioactive Properties of Allosteric Modulation.” Plos Computational Biology 10(4)

Wang, L., et al. (2009). “Allosteric Modulators of G Protein-Coupled Receptors: Future Therapeutics for Complex Physiological Disorders.” Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics 331(2): 340-348.

Wenthur, C. J., et al. (2014). “Drugs for Allosteric Sites on Receptors.” Annual Review of Pharmacology and Toxicology, Vol 54 54: 165-184.

Zhang, Y. Q., et al. (2005). “Allosteric potentiators of metabotropic glutamate receptor subtype 5 have differential effects on different signaling pathways in cortical astrocytes.” Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics 315(3): 1212-1219.

Walaupun hanya memberikan kontribusi 5% terhadap nilai akhir, tapi menulis dengan passion itu memberikan kepuasan tersendiri :). semoga bermanfaat ! ❤