Yangie Dwi M.P

Life is compared to a voyage, so colour your life colourfully and should come closer to Allah


Leave a comment

Minggu ini dan Mengingat Tentang Oxford

Hampir saja sebenarnya saya mengubah rencana untuk tidak singgah di Oxford sebelum menuju tujuan akhir, London, karena tidak ada lagi bus setelah pukul 5 sore dari Manchester ke Oxford. Untungnya masih ada moda lain yaitu kereta yang bisa digunakan walaupun harus merogoh kocek lebih dalam. Demi Oxford, one of my wonder city to visit. Demi Oxford, yang ketika mendengar nama universitasnya saya seakan pungguk merindukan bulan. Demi Oxford, yang saya kenal sebagai salah satu kota tempat berkumpulnya orang-orang cerdas dari segala penjuru dunia. Sebegitukah Oxford ?

Ketika menginjakkan kaki keluar kereta, benar saja, saya merasakan hembusan angin yang berbeda. Saya seperti merasa memang masuk pada kawasan terpelajar penuh penemuan hebat dan persaingan yang positif. Mungkin, mindset ‘wah’ tentang Oxford secara tak sadar sudah terbentuk dibenak saya. Saya kemudian bergegas menuju hostel pelajar yang terletak persis di belakang stasiun. Badan ini sudah harus istirahat agar besok perjalanan mengelilingi kota kecil ini dalam keadaan tubuh dan wajah yang fresh. Namun, sebelum beranjak tidur, saya iseng browsing dan mencari informasi terkait how-to-apply PhD di universitas tertua pertama di UK ini. keinginan untuk belajar lagi selalu ada, apalagi di tempat terbaik seperti ini, saya langsung termotivasi. Namun, disisi lain, segera saya juga merasakan lack of confidence alias minder. Saya juga throw back pada pengalaman yang masih minim mengumpulkan portfolio, atau terjun ke masyarakat secara langsung. Mengingat juga betapa masih minimnya usaha untuk bisa paham suatu ilmu, serta masih banyak hal sia-sia yang dilakukan. Saya selalu mempertanyakan apakah saya bisa? apakah saya pantas ?

A dream will come true, if I believe in, and it is doesn’t matter to be proved.

Oxford, sebuah kota yang entah itu istilahnya ditemukan atau berdiri sekitar tahun 911. salah satu kota tua di Britania Raya, sehingga pantas saja arsitekturnya didominasi klasik namun kokoh dan penuh filosofi. Pertama yang saya kunjungi adalah daerah Radcliffe Square, the Old Schools Quadrangle, yaitu Bodleian Library,  atau biasa dipanggil the Bod. Perpustakaan terbesar dan essential yang berdiri tahun 1602, memiliki koleksi 9 juta buku dan menjadi library terbesar kedua di UK. Sayangnya, saya mengunjungi Oxford ketika libur Christmas sehingga banyak objek-objek must visit di kota ini tutup, atau sepertinya ini pertanda saya harus kembali lagi kesana. Saya juga melewati The Clarendon Building, dibangun awal abad 18 dan pernah menjadi tempat untuk Oxford University Press yang buku-bukunya menarik tapi mikir-mikir untuk beli setelah mengenal adanya e-book gratis (sama ilmu aja pelit ngoi pantes…).

The Bod

The Bod

The Clarendon Building

Salah satu bangunan yang saya suka adalah Radcliffe Camera karena arsitekturnya yang bernuansa seakan berada pada zaman neo-klasik. Bangunan ini dibangun tahun 1737-1749 dan didanai oleh John Radcliffe, yang menjadi pelajar Oxford bahkan ketika baru berusia 13 tahun hingga dinobatkan menjadi salah satu notable doctor di bidang kesehatan. Di lokasi Radcliffe Square ini kita juga akan menjumpai church of St. Mary’s the virgin, gereja official universitas Oxford. Gereja ini dibuka untuk umum, dan kita bisa melihat kota Oxford dari menaranya. karena ini adalah karyawisata mahasiswa, segala hal yang berbayar, bukan menjadi pilihan. So sorry

The Radcliffe Camera

The Radcliffe Camera (pengen masuk Oxford, Mak… !)

Setelah puas menyusuri daerah Catte Street, saya pun berjalan ke arah New College Lane dan melewati Hertford Bridge atau sering disebut Bridge of Sighs, karena arsitekturnya mirip di Venice padahal yang nge-desain tidak bermaksud untuk meniru. Saya kemudian berjalan ke arah university park, melewati college-college, dan melihat sekilas interior kampus terbaik dunia ini walaupun hanya dari balik pagar (hanya church yang buka, dining hall tempat penerimaan para murid Hogwarts oleh kepala sekolah Albus Dumbledore di film Harry Potter tutup).

Bridge of Sighs

Bridge of Sighs

University Park

Arsitektur yang klasik tapi kokoh, Colleges yang ada di University of Oxford

Arsitektur yang klasik tapi kokoh, Colleges yang ada di University of Oxford

Hanya bisa memandangi dari depan gerbang

Hanya bisa memandangi dari depan gerbang

Oxford itu… kota yang nyaman bagi saya pribadi pada pandangan dan injakan kaki pertama. Selain karena kotanya teduh (tidak padat tidak pula terlalu sunyi), penuh motivasi dan inspirasi, juga karena mudah menjumpai tempat sholat. Mendengar azan secara langsung di mushola Bangladesh dan menunggu jamaah, sungguh suatu kedamaian tersendiri walau hanya sebentar. Saya juga melihat beberapa start up bisnis yang lebih kreatif di Oxford. Mungkin karena Oxford adalah kota berkumpulnya anak muda, sehingga banyak pula ide-ide baru nan segar.

Cahaya keemasan dari matahari

Cahaya keemasan dari matahari

Hal yang paling berkesan bagi saya ketika mengunjungi Oxford adalah ketika memasuki Museum of History of Science. Saya hanya punya waktu 30 menit di museum ini karena kami harus segera menunggu di stasiun supaya tidak ketinggalan kereta. Langsung saja saya memprioritaskan untuk menyusuri lantai basement terlebih dahulu, dimana dipamerkan penemuan-penemuan kesehatan yang menjadi pemicu berkembang pesatnya ilmu pengetahuan. Sebut saja yang menjadi daya tarik saya di tempat ini adalah sejarah ditemukannya Penicillin, antibiotik golongan beta laktam, salah satu nenek moyangnya antibiotik. Penicillin pertama kali ditemukan oleh Alexander Fleming (ilmuwan Skotlandia lho :D) dan tim yang dibentuk di Oxford ini memberikan kemajuan tentang aktivitas Penicillin secara in vivo. Selain itu, saya beralih memandangi 2 lemari berisi guci-guci nama latin obat (fotonya post saya yang ini https://yangiedwimp.wordpress.com/2015/01/21/reseptor-farmakologi/). Sebagai seorang farmasis, tentulah saya langsung bisa menebak nama-nama latin tersebut refer to what drugs. Saya menyadari bahwa ilmu yang saya geluti sata ini, farmasi, sungguh esensial dan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Untuk koleksi-koleksi kedokteran, seperti alat bedah zaman kuno, saya hanya melihat sekilas. Saya hanya tidak ingin kehilangan waktu agar bisa juga mengeksplor lantai dua.

Health Science

Health Science

Penicillin, salah satu penemuan fenomenal yang  menjadi titik awal berkembangnya Antibiotik

Penicillin, salah satu penemuan fenomenal yang menjadi titik awal berkembangnya Antibiotik

Di lantai 2 saya hanya berkesempatan melihat objek Astrolobe, yang digunakan oleh astronom-astronom zaman dulu untuk menentukan tanggalan dan penunjuk arah. Yang membuat saya sangat tertegun dan terdiam sejenak adalah penemu-penemu awalnya sebagian besar adalah mereka yang hidup zaman kekhalifahan islam yang saat itu sedang menguasai Konstantinopel, Persia, dan Andalusia untuk bisa menentukan arah Qibla. di museum ini dijelaskan secara detail bagaimana hubungan ilmu pengetahuan dan islam, koneksi antara sciences dan seni dalam kehidupan muslim yang dipamerkan melalui koleksi keramik,  logam, dan manuskrip-manuskrip abad pertengahan.

Terkesima dengan Astrolobe yang ditemukan bahkan dari abad ke 10 oleh ilmuwan Islam

Terkesima dengan Astrolobe yang ditemukan bahkan dari abad ke 10 oleh ilmuwan Islam

Nah, apa hubungannya dengan minggu ini ?

Minggu ini, saya merasa apa yang saya pelajari sepertinya tidak menempel dalam otak saya, bahkan contoh kecil adalah ketika diskusi tentang pemilihan obat. Rasanya, kok saya sudah belajar tapi tidak juga bisa menjawab. Minggu ini, rasanya saya seakan tidak tahu sebenarnya harusnya berkontribusi dimana di masa depan, saya seperti masih banyak berbicara ketimbang karya nyata, cepat merasa puas dan tidak konsisten terhadap suatu hal baik. Saya seperti tidak memiliki kapasitas. Seketika itu juga saya di’tegur’ ketika saya membaca wawancara Humans of New York dengan Obama.

“But the thing that got me through that moment, and any other time that Ive felt stuck, is to remind myself that it’s about the work, the effort. Because if we are worrying about ourselves, if you’re thinking : Am I succeeding ? am I in the right position ? am I appreciated (valued) ? Then you’re going to end up feeling frustrated and stuck. But if you can keep it about the work, you will always have a path. there is always something to be done.”

Mengenang Oxford, mengenang tiap sudut Museum History of Science telah mengembalikan semangat saya kembali. Begitulah para sahabat Nabi, dan beliau-beliau yang berkontribusi zaman kejayaan Islam meninggalkan karya-karya hebat hanya untuk penilaian Allah, yang bekerja dan hasil akhir adalah hadiah dari-Nya. Maka patutlah mereka bergembira di hari akhir, mengalir pahala tak putus karena ilmu mereka yang terus digunakan oleh generasi-generasi saat ini. Sedang saya? Membandingkan usaha saya saat ini dengan mereka, rasanya jauh sekali. But, deep in my heart, I promise to just think about work hard, pray hard, ikhlas, be grateful and be patient, and maximize my contribution to educate future generation. 🙂

“Based on the experience of history and civilization of mankind, which is more important for Muslims today, to no longer busy discussing the greatness that Muslims achieved in the past, or debating who first discovered the number zero, including the number one, two, three and so on, as the contribution of Muslims in the writing of numbers in this modern era and the foundation and development of civilizations throughout the world. But how Muslims will regained the lead and control of science and technology, leading back and become a leader in the world of science and civilization, because it represents a real achievement.” – BJ Habibie

I love Oxford

I love Oxford

Advertisements


Leave a comment

Case Study – Chronic Kidney Disease and T1DM

CASE STUDY CHRONIC KIDNEY DISEASE- Part 1

Halo teman-teman, hari ini adalah hari pertama dibentuknya grup WA alumni farmasi ITB 2007 yang memiliki minat di farmasi klinis. Terimakasih kepada Yovita Diane aka Tiesa yang menginisiasi, baca blognya http://pinkishsailor.blogspot.co.uk. Dengan hadirnya grup ini, harapannya setiap anggota dapat saling berbagi ilmu, mengingat kembali teori yang didapat selama kuliah, menambah wawasan, dan semakin mengasah kemampuan. Belajar dari kasus lapangan juga diharapkan menjadi cara yang paling efektif untuk mencapai harapan-harapan adanya grup ini. Semoga kedepannya, farmasi klinis semakin kompeten untuk menjalani peran nyata di dunia klinis, demi tercapainya pelayanan kesehatan yang paripurna.

Oiya post ini adalah hasil diskusi dalam  grup, supaya tidak hilang maka saya mencoba untuk selalu membuat rangkumannya. Tempatnya juga masih di blog personal, ini cuma sementara teman-teman tenang… lagi berusaha untuk membuat forum khusus case study tersebut. Tanpa bermaksud mengambil alih peran tenaga kesehatan lainnya, pemecahan kasus tersebut lebih menitik beratkan pada pharmacist’s view point sebenarnya. Contohnya, apakah dosisnya rasional, apakah obatnya tepat, dll. Tapi, untuk memutuskan terapi kan juga perlu prinsip dasarnya (nasib apoteker belajar semuanya dari tubuh manusia sampe rancang pabrik).

Nah kasus pertama ini tentang Chronic Kidney Disease. selamat ‘menikmati’

Miss SB, 27 year old, Female. Presenting complaint : history of nausea, vomiting, general malaise, decrease in urine output recently, weight gain of 5 kg over the past two months. She had T1DM (insulin dependent)

Hasil Lab :

Na 143 mmol/L

K 6.5 mmol/L

Cr 530 micromol/ L

Urea 26.7 mmol/ L

Glucose 12.2 mmol/L

BP 158/ 110 mmHg

PO 4 2.5 mmol/ L

Ca 2 mmol/L

Hb 7.8 g/dl

Diagnosed : CKD

Sekilas Tentang Ginjal

Organ tubuh manusia yang menjalankan fungsi sebagai organ ekskresi. Ginjal mengeluarkan zat sisa yang komposisinya berupa adalah 90% air, elektrolit (Na+, Cl. K+), urea, creatinine, ion-ion, serta senyawa inorganic dan organic lainnya. Selain itu, ginjal esensial berfungsi menjaga tekanan darah dengan mengeluarkan cairan lebih dalam tubuh, serta karena adanya hormon yang berada diginjal yang berperan dalam mengontrol tekanan darah (aldosterone, renin). Ginjal juga berperan mencegah anemia karena tempat produksi hormon EPO yang menstimulasi sumsum tulang untuk memproduksi sel darah merah. Ditambah, di ginjal pula provitamin D diubah menjadi bentuk aktif, vitamin D, yang membantu menjaga kalsium dalam tulang dan keseimbangannya dalam darah. Singkat kata, ginjal esensial menjaga keseimbangan elektrolit pada batas normal di tubuh.

Orang-orang yang memiliki penurunan fungsi ginjal atau penyakit ginjal lainnya memiliki resiko yang lebih tinggi untuk terkena cardiovascular disease, sehingga diperlukan identifikasi dini yang tepat untuk mencegah progresifitas kerusakan atau penurunan fungsi ginjal. Kondisi CKD dapat diidentifikasi dari test darah atau urin. Pada kasus diatas, kondisi ginjal pasien diketahui melalui tes darah.

Assesing Renal Functions :

Test Normal Range
Na 143 mmol/ L 135 – 145 millimoles/liter (mmol/L)
K 6.5 mmol/L 3.5 – 5.0 millimoles/liter (mmol/L)
Cr 530 micromol/L 45 to 90 micromol/L
Urea 26.8 mmol/L 2.5 to 7.1 mmol/L
Glucose 12.2 mmol/L Before meals : 4-7 mmol/L2 hrs after meals : <9 mmol/L
BP 158/110 mmHg 120/80 mmHg
PO4 2.5 mmol/L 0.8 to 1.4 mmol/L
Ca 2 mmol/ L  2.25-2.5 mmol/L
Hb 7.8 g/dl 12-16 g/dL

Creatinine, urea, ion fosfat dan kalium yang meningkat, ion calcium  yang menurun, disertai tekanan darah yang meningkat dan berat badan naik, ditambah lagi frekuensi urinasi menurun menjadi ciri klasik pasien yang didiagnosis mengalami penurunan fungsi ginjal.

Berikut interpretasi dan penjelasan dari hasil laboratorium pasien SB :

  • Na+ berada pada rentang kadar normal, pertanda bukan hipertensi essential
  • K+ meningkat, K+ adalah salah satu elektrolit yang keluar dari tubuh melalui urin, penurunan kerja ginjal dan penurunan frekuensi urinasi bisa menyebabkan peningkatkan ion K dalam darah
  • Creatinine dan Urea meningkat sebagai pertanda khas pada pasien yang memiliki gangguan pada ginjal karena senyawa tersebut adalah hasil metabolisme yang dikeluarkan melalui urin
  • Haemoglobin yang rendah menunjukkan indikasi adanya gangguan produksi eritrosit atau sekresi EPO di ginjal
  • Glucose meningkat, pasien mengidap diabetes tipe 1.
  • Posfat juga elektrolit yang dikeluarkan melalui urin, penurunan kerja ginjal menyebabkan peningkatan kadar posfat dalam darah. Posfat dalam kesetimbangan dengan kalsium tubuh. Ketika kadar posfat berlebih, kadar kalsium dalam darah akan menurun karena tidak cukup untuk mencapai kesetimbangan dengan posfat (menurun). Oleh karena itu, hypocalcemia menjadi sinyal stimulasi sekresi hormone PTH yang akan menguraikan kalsium dalam tulang ke darah. Inilah salah satu penyebab general malaise yang dirasakan oleh pasien.
  • Perlu perhitungan Glomelurus Filtration Rate (GFR) untuk mengetahui stage CKD pasien SB. Salah satu target terapi pasien CKD adalah mencegah progresifitasnya. Perhitungan GFR dapat menggunakan metode Corkford dengan menggunakan BMI personal pasien (metode lebih baik karena tergantung personal kondisi pasien, oleh karena itu diperlukan data berat badan pasien), atau metode MDRD menggunakan average BMI for adults /1.73 m2. Bila menggunakan metode MDRD, pasien sudah masuk CKD stage 5

Baca juga : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2879308/

stages of CKD

stages of CKD

  • Glucose darah yang meningkat dikarenakan pasien mengidap diabetes tipe 1 insulin dependent
  • Dalam manajemen terapinya, pasien CKD juga sering disertai pemberian terapi vitamin D, kalsium, kalsium karbonat sebagai posfat binder, serta asam folat untuk stimulasi pembentukan Hb.
  • besar kemungkinan pasien tersebut mengalami CKD sebagai komplikasi dari diabetes tipe pertama yang diderita.

Terapi Pasien Chronic Kidney Disease

Pasien tersebut kemudian diberikan terapi IV Furosemide, apakah rasional dan dosis yang rasional seperti apakah ? Lalu bagaimana kita mengobata hiperkalemia? Pasien juga diresepkan kalsium karbonat, bagaimana dosis rasionalnya ? adakah alternatif lainnya.

Untuk menjawab semua ini, mari kita pahami terlebih dahulu tujuan/ target terapi dan guideline terapi CKD.

Kita disini sepakat penanganan terkait pharmaceutical untuk pasien tersebut adalah mengeluarkan cairan dan mencegah progresifitas kerusakan ginjal. Kemudian kita perlu juga menurunkan tekanan darah yang kenaikannya berhubungan dengan fungsi ginjal. Tekanan darah perlu dikontrol dibawah 140/90 mmHg (http://nkdep.nih.gov/resources/ckd-diet-assess-manage-treat-508.pdf), optimal 130 mmHg (SIGN guideline) untuk memperlambat penurunan GFR dan mereduksi proteinuria, serta perlu menjaga keseimbangan elektrolit pada tubuh pasien.

Penggunaan Diuretik Pada Pasien CKD

Diuretik berguna pada manajemen terapi pasien dengan CKD. diuretik akan mereduksi volume cairan berlebihan dalam tubuh dan sebagai agen anti hipertensi. selain itu, ia juga akan mempotensiasi efek ACE inhibitor, ARBs, dan agen antihipertensi lainnya. Pemilihan diuretik disesuaikan dengan level GFR dan volume Extra Cellular Fluid (ECF) yang perlu direduksi. Udem atau volume ECF adalah ketika pasien mendapatkan 2-3 kg peningkatan berat badan.

Tubule Transport System and Diuretics Mechanism of Action

Tubule Transport System and Diuretics Mechanism of Action

 baca juga : http://www.cvpharmacology.com/diuretic/diuretics.htm

Kuatnya efek diuresis juga berkaitan dengan tempat kerjanya. Loop diuretic diberikan 1 atau 2 kali sehari pada pasien yang GFR<30 ml/min/1.73m2 (CKD stage 4-5). Thiazide juga masih membutuhkan fungsi ginjal untuk bisa aktif sebagai diuretik. Diuretik thiazide yang diberikan 1 kali sehari direkomendasikan untuk pasien yang memiliki GFR >= 30 mL/min/1.73m2 (CKD stage 1-3). Loop diuretik dapat dikombinasikan dengan thiazide dan diberikan pada pasien yang memiliki volume ECF dan udem berlebih serta pasien yang resisten dengan terapi Loop diuretik, terutama pada heart failure, namun risk dan benefit rasio perlu dipelajari lebih lanjut (http://content.onlinejacc.org/mobile/article.aspx?artocleid=1143853). Namun pada kasus ini, pasien tidak memiliki riwayat heart failure.

Diuretik hemat kalium (Amiloride) bekerja menghambat pengeluaran kalium, dan tentu perlu diperhatikan bila pasien mengalami hiperkalemia, pasien CKD stage 4-5, pasien yang juga menerima terapi ACE Inhibitor atau ARBs.

Oleh karena itu, disini kemudian apoteker merekomendasikan untuk pasien yang memiliki GFR < 15 ml/min (CKD stage 5) dan hiperkalemia maka obat adalah IV furosemide 2 hari sekali.

Glukosa darah perlu dikontrol untuk membantu memperlambat progres CKD (DCCT,1993; UKPDS,1998) penurunan GFR, metabolisme ginjal terhadap insulin dan oral diabetes akan menurun pula sehingga glukosa darah dapat meningkat (Snyder and Berns, 2004).

Terapi Hiperkalemia Akut

Kemudian kita berlanjut pada terapi untuk menurunkan kadar kalium pasien.

Forum pun diselesaikan sampai sini dulu ya soalnya yang di Indonesia udah pada ngantuk…to be continued ^^


2 Comments

Mari

Mari kita belajar untuk selalu menjaga hati jika kita berkarya atau melakukan sesuatu bukan untuk penilaian makhluk, tapi hanya mengharap penilaian Allah

Mari kita belajar untuk lebih mengingat dosa sehingga jadi cambuk lebih banyak lagi berbuat kebaikan

Mari kita belajar untuk lebih peka terhadap sekitar

Mari kita belajar untuk tidak mengingat-ngingat kebaikan

Mari kita belajar untuk mengingat bahwa kita tidak berjasa dalam pencapaian seseorang/ membantu orang, kita hanyalah media numpang lewatnya rezeki yang Allah titipkan untuk seseorang.

Mari kita belajar untuk tidak berdebat dan uji kapasitas, tapi saling bahu membahu berusaha menyelesaikan masalah dan menyodorkan solusi

Mari kita belajar untuk memberikan suatu informasi berdasarkan data/ fakta/ evidence yang ada

Mari kita belajar untuk berkarya dalam diam

Mari kita belajar dan mengambil hikmah hari ini

Mari

Main Library UoG

03-02-2015 22:22


2 Comments

Keep Calm and Love December

Assalamu’alaykum

BIsmillah !

December, let me say ! campur-aduk feelings ! particularly fear, heart beats so fast, feeling so happy and grateful, suddenly getting high enthusiasm, sometime tough and must keep fighting, yet a feeling like ‘just Allah do the rest’.

I was worried about my first exam in English speaking country. My examinations’ mark in this term. obviously, these will not be involved in final mark, they called it formative exam. it means, these exams just training session for new students to have sense and understand how exam period at UoG. However, I promised, I don’t want to waste every single time happened here. I will do as best as I can. So, even just formative exam, I decided to study hard. Ive tried to utilise all my capacity to get deep understand about every subject that will be examined. I considerably think, I should prepare for final exam start from now !

Okay well, you will see many types of students in your class. First, people who decided to be brave and face all exams whether they have concerned on studying or not, whether they answered seriously or not. Me, congratulation, attended all exams, although so many distractions I had when I was studying !!! for example text messages, social medias, cheese cakes, cooking, novels, or watching movies. fiuh..T_T. Second, people who attended a half of exam period, depend on their favourite subjects. the third, people who was panic in the beginning of exam period, but, unfortunately, they didn’t attend a whole exams. the fourth, people who is prefer to come to their hometown and enjoy holiday whether studying and wasting ur energy just for try out session. it is your choice, nothing to lose.

I also had feeling like “pasrah” in the beginning of my exam period. nope, not because I gave up on studying, but because I felt ‘let it go” when someone tried (again) to talk with my mom to getting married. I don’t know how many efforts we have done. we just try and try again. We don’t know what time is the best for Allah to let us because we are ready for passing every challenges or obstacles on marriage life. we just do not want to give up if we still want to try again. In this day, I really pray with no hard feeling to be granted. i remembered, I pray with no word. and the tears is my prayer. I pray and pray then suddenly my mom said yes ! it is like a dream. and that time, i can’t stop crying. I cried along the day. and I am so grateful. alhamdulillah. However, it is still long journey, all we can do now is keep our ‘niat’ to step into very different life. yes I could be happy, but the other hand, I absolutely should ready for every chances that can be happened. hopefully it is gonna be alright until the right time I can deserve it :).

Setiap keburukan selalu dibalas kebaikan, sudah sepantasnya kita bekerja hanya untuk Allah :’) ❤

Alhamdulillah :’). I will remember this day


Leave a comment

Allosteric Modulation, Strategi Dalam Pengembangan Obat Baru di Era Modern

Mari kita menulis tentang ilmiah kali ini ! to be honest, ini adalah tugas yang aku kumpulkan untuk pemenuhan tugas essay pelajaran Principle of Pharmacology yang bertemakan “apakah classical pharmacology/ reseptor masih diperlukan dalam pengembangan obat baru di abad ke 21 ini ?”

Aku bisa mengangkat berdasarkan penyakit, bandingkan obat yang dahulu dan saat ini. Atau berdasarkan target reseptor, misal G-protein bagaimana pengembangan obatnya, apakah masih diperlukan. bisa juga membahas intervensi baru dalam pengembangan obat, mengingat saat ini juga sudah masuk ke zaman post-genomik. setelah melewati pertapaan selama 2 minggu lamanya (lama amat), akhirnya kau memutuskan untuk membahas topik tersebut dengans spesifik ke Allosteric modulation. apakah itu allosteric modulation ?

Kenapa sih obat bisa kemudian memberikan efek dalam tubuh kita ? yap, ketika obat masuk kedalam tubuh dan diserap oleh darah menuju sel tempat dia bekerja, obat tersebut akan berikatan pada satu molekul dalam sel tubuh yang dikenal dengan nama reseptor. Term reseptor itu sendiri pertama kali dikenalkan oleh Langley dan Ehrlich periode 1870-1910. semenjak ditemukannya bahwa reseptor ini berperan penting dalam interaksi dengan obat, banyak penelitian akhirnya berkembang untuk meneliti tentang ikatan reseptor-obat hingga akhirnya menghasilkan respon terapeutik. adalah Clark kemudian memperkenalkan konsep receptor occupation theory, dimana efek farmakologi berkaitan dengan jumlah reseptor yang teraktivasi. sehingga, konsentrasi maksimum obat bisa diketahui jika semua reseptor teraktivasi (Clark, 1937).

Teori kemudian direvisi oleh Ariens, Stephenson dan peneliti-peneliti lainnya di pertengahan abad ke 20 berdasar konsepsi bahwa sebuah obat dapat mencapai efek maksimal walaupun mengaktivasi sejumlah kecil proporsi reseptor. ada dua parameter essensial dalam interaksi antara obat-reseptor, yang pertama adalah afinitas (kemampuan obat berikatan dengan reseptor), dan efikasi (kemampuan ikatan tersebut memberikan respon farmakologi). dari sini juga kita mengenal dengan istilah partial agonist (Raffolo, 1982; Stephenson, 1997). nah… pendekatan-pendekatan diatas hanya menganalisa hubungan antara obat dan reseptor pada sisi aktif, seperti kalau kita bayangkan adalah kunci dan gembok.

Ternyata, sebuah reseptor bisa teraktivasi dari hasil interaksi antara obat dengan sisi selain sisi aktifnya, atau kita kenal kemudian dengan istilah allosteric site. mengetahui hal ini, kemudian penelitian mengarah ke penciptaan obat yang mempengaruhi sisi allosterik ini, yang juga menandakan bahwa itu berarti reseptor masih memegang peranan penting dalam pengembangan obat baru. Ada struktur dalam reseptor yang berbeda dari sisi aktif tapi juga akan memberikan efek bila berikatan dengan ligand (obat), sehingga muncullah obat-obat allosteric modulator.

allosteric modulator bekerja dengan mengubah konformasi (bentuk) reseptor untuk dapat selanjutnya memberikan efek. dia dapat bekerja independen atau bekerja sama dengan ligand dalam tubuh yang berikatan dengan sisi aktif reseptor (seperti neurotransmitter, hormon, atau molekul kecil tubuh lainnya yang mengatur fisiologi tubuh). ikatan obat allosterik ini akan membentuk seakan “reseptor baru” dengan sifat yang baru juga (Wang, 2009). dengan adanya obat yang berikatan dengan sisi lain dari aktive site bisa meningkatkan/ mereduksi/ menghambat/ menginduksi respon yang biasa dihasilkan oleh reseptor ketika berikatan dengan natural ligand (endogenous ligand).

nrd4052-f1

Allosteric drugs akan memodulasi sinyal yang dihasilkan oleh natural agonist (orthosteric agonist) dengan reseptor (contoh disini G-protein coupled receptor/ GPCR). Positive allosteric modulator akan meningkatkan sinyal, negative allosteric ligands akan mereduksi, sedangkan neutral allosteric ligands tidak akan mengubah sinyal. source : Wootten et al., 2013. doi:10.1038/nrd4052

Kenapa jadi ada allosteric modulation drugs ? obat-obat yang langsung berikatan pada sisi aktif reseptor ternyata memberikan efek samping yang merugikan atau terlalu ekstrim, selektifitasnya terbatas, juga menyebabkan resistansi, toleransi atau dependensi terutama ketika diberikan dalam kurun waktu yang lama untuk pengobatan kronis, atau bahkan lack of efficacy (Wenthur, 2014). misal nih, Ketamin, obat yang bekerja di reseptor NMDA (banyak di otak) yang digunakan sebagai obat anestetik ternyata memberikan efek samping yang cukup merugikan seperti efek pada sistem cardiovascular, toksisitas sistem syaraf pusat, dan halusinasi/ efek psychomimetic (Olney et al, 1991).

Nah, allosteric drugs memberikan beberapa keuntungan dibandingkan orthosteric/ active site drugs, yaitu :

1. tidak punya intrinsic affinity. apa itu maksudnya ? dia tetap dapat menginduksi, menghambat, meningkatkan atau mereduksi fungsi normal reseptor ketika berikatan dengan natural ligand, daripada mengaktivasi atau menghambat secara langsung (van Westen 2014; Kenakin, 2012). salah satu contohnya obat yang diteliti di muscarinic acetylcholine receptor (mAChR). allosteric ligand M1 (AC-42) memiliki efek penghambatan incompletely terhadap ikatan antara antagonist MNS dengan sisi aktif reseptor, ketimbang memblok aktivitas reseptor tersebut secara langsung (Langmead et al, 2006).

2. efek allosteric modulator juga saturable, artinya ketika berikatan dengan reseptor, ga ada lagi efek selanjutnya yang bakal terjadi hasil dri ikatan mereka tersebut. ada yang menganalisa, berarti bisa diberikan dalam dosis tinggi tanpa takut over stimulating atau overinhibiting

3. dari segi sifat fisikokimianya, allosteric drug lebih baik karena punya berat molekul yang lebih rendah dan lebih lipofilik. hal ini mengikuti bahkan lebih baik dari aturan lipinski’s rule untuk desain obat baru, sehingga memudahkan  dalam hal formulasi obat. sifat fisikokimia ini juga yang membuat allosteric drugs punya afiinitas yang rendah tapi memberikan effikasi tinggi (Nussinov, 2013)

4. allosteric drug, di banding classic active-site obat adalah subtype-selectivity. misal pada obat benzodiazepine yang digunakan untuk pengobatan stress disorders dan terbukti bekerja sebagai allosteric modulator. benzodiazepine memiliki subtype-selectivitas yang pada reseptor GABA (dalam sistem saraf pusat), dimana ia selektif hanya memberikan efek pada GABA alpha subtype 1,2,3,5; GABA beta; dan GABA gamma subtype 2, dan tidak menunjukkan efek pada subtype GABA lainnya (van Westen, 2014; Coon, 2009; Bridges TM, 2008; Mohler et al., 2002).

Mekanisme obat allosteric modulator tidak hanya meningkatkan potensi dari natural ligands, tapi juga punya probabilitas meningkatkan konsentrasi untuk mencapai efek maksimal. sebagai contoh pada reseptor GABA di Chinese Hamster Ovary (CHO), dengan adanya allosteric enhancer CGP7930, konsentrasi agonist yang berikatan pada sisi aktif reseptor GABA harus ditingkatkan (Urwyler, 2001).

Riset-riset yang meneliti allosteric modulator semakin meningkat dan diteliti pada setiap tipe reseptor. sisi allosteric sudah banyak ditemukan di reseptor-reseptor ionotropik dan metabotropik, tapi masih sedikit yang ditemukan di nuclear reseptor (reseptor inti sel) dan enzyme (terutama protease, kinase, dan phospolipase) (van Westen, 2014). kebanyakan saat ini penelitian mengarah untuk mendapat obat-obat yang ditujukan untuk terapi imun, kanker, genetik, dan penyakit trend abad saat ini seperti Alzheimer’s Disease (AD), parkinsons, dan CNS disorders lainnya.

Receptor target Allosteric Compounds Indications or Potential Functions
Ligand-gated ion channel
GABAa receptor Benzodiazepine Anxiety, sedative, hypnotic
Nicotinic Acetylcholine receptors Gallanthamine, Ivermectin Alzheimer’s disease (AD), anti-parasitic
Alpha 4b2 nAChR Varenicline (Pfizer),  Lobeline, ABT-089 (abbott),  TC-1734 & TC-5214 (Targacept), S-38232 (Servier), ABT-594 (Abbott) Smoking cessation, cognitive dysfunction, Alzheimer’s disease (AD), depression
Alpha 7 nAChR GTS-21 (CoMentis), MEM-3453/R-3487 (Memory/Roche), AZD-0328 (Astra Zeneca), TC-5619 (Targacept), ABT-107 (Abbott), EVP-6124 (EnVivo) Schizoprenia, Alzheimer’s disease (AD), Cognitive disorders
NMDA Receptor Memantine, Glycine, Polyamines, ifenprodil, zinc Alzheimer’s disease (AD)
G-protein-coupled receptors
Calcium-sensing receptor Cinacalcet (Amgen) Hyperparathyroidsm (marketed)
Chemokine CXCR1/CXCR2 Reparixin (Dompe) Reperfusion injury in lung/ kidney transplantation (phase II/III)
Chemokine CCR5, CXCR4 Maraviroc (Pfizer) HIV AIDS (marketed)
Glutamate mGlu1 CPCCOEt, JNJ16259685 Neuropathic pain, Fragile X, anxiety/ stress disorders, addiction
Glutamate mGlu2-selective ADX71149 (Addex & Ortho McNeil-Janssen) Schizophrenia (phase II)
Glutamate mGlu3-selective VU0463597/ML-289 Depression
Glutamate mGluR 2/3 AZD8529 (Astra Zeneca) Schizophrenia (phase II)
Glutamate mGluR 4 PHCCC, VU0155041, VU0364770, ADX88178, LuAF21934, Lu AF32615 Neuroinflammation, neuroprotective agents, Parkinson’s disease (PD), schizoprenia
Glutamate mGluR 5 AFQ056 (Novartis) Fragile X (phase II), Parkinson’s disease levodopa-induced dyskenia (PD-LID)
Dipraglurant (Addex) Parkinson’s disease levodopa-induced dyskenia (PD-LID), Dystonia (phase II)
STX107 (Seaside Therapeutics) Fragile X, Autism (phase II/III)
RO4917523 (Hoffmann-La Roche) Depression, Fragile X (phase II)
Fenobam (Neuropharm) Fragile X (phase II)
ADX10059 Gastro-esophageal reflux
Glutamate mGluR 7 MMPIP, AMN082 Anxiety, depression
Glutamate mGluR 8 DCPG Parkinson’s disease, anxiety
Muscarinic M1 Brucine Alzheimer’s disease (AD)
Muscarinic M4 Tropicamide, Thiochrome, MI293 Dystonia, Parkinson’s diseae, Alzhemeir’s disease (AD), schizoprenia
Muscarinic M5 VU0238429 Anxiety disorders, Parkinson’s disease, schizoprenia
Purine P2Y12 Ticagrelor Antiplatelets (marketed)
Serotonin 5-HT Oleamide Anxiety disorders
Prostaglandin F receptor (FP) PDC31 (THG113.3) Pretern labor and primary dysmenorrheal

Cinacalcet, salah satu yang sudah di launching dan digunakan luas untuk terapi hiper-paratiroid dan paratiroid karsinoma, bekerja sebagai positive allosteric modulator di calcium sensing receptor (CaSR) sehingga lebih sensitif untuk berikatan dengan kalsium. dia secara efektif dapat menekan sekresi paratiroid yang disebabkan oleh rendahnya kadar kalsium dalam darah (Coon, 2009).

Obat lain yang menjadi salah satu penemuan yang berarti adalah obat dengan target reseptor NMDA yaitu Memantine. Memantine digunakan untuk terapi Alzheimer’s saat ini. memantine bekerja sebagai uncompetitive NMDAR, bekerja low affinity dengan reseptor tapi high efficiency, dia bekerja voltage-dependent. jadi bekerja ketika glutamate (Sebagai natural neurotransmission) diproduksi di otak dan berikatan dengan NMDAR terlalu berlebihan, tapi efeknya rendah ketika produksi glutamat dalam kondisi normal. hal inilah yang membuat berkurangnya efek samping jika menggunakan allosteric modulator dan tetap memberikan efek tanpa menganggu sistem normal fisologis tubuh.

Untuk kedepannya, penemuan allosteric modulator akan berhubungan dengan penelitian struktur dan fungsi spesifik reseptor, serta penemuan mekanisme siganlling cascade yang berperan setelah aktivasi reseptor hingga memberikan respon. secara umum, riset tentang allosteric drugs ini bergeser ke arah menemukan senyawa yang lebih spesifik dan selektif terhadap subtype tertentu dari reseptor. ditambah, pengembangan ilmu dan teknologi berkaitan dengan medicinal chemistry (pendekatan komputasi), teknik molekular biologi dan informasi genetik akan memberikan kontribusi dalam peningkatan desain obat allosterik, yang ditujukan untuk mendapatkan obat yang selektivitasnya tingga, efikasi yang lebih baik, meminimalisasi efek samping, tapi tanpa menginterferensi fisiologi normal manusia.

References :

Ariens, E. J. (1954). “Affinity And Intrinsic Activity In The Theory Of Competitive Inhibition .1. Problems And Theory.” Archives Internationales De Pharmacodynamie Et De Therapie 99(1): 32-49.

Bridges, T. M. and C. W. Lindsley (2008). “G-protein-coupled receptors: From classical modes of modulation to allosteric mechanisms.” Acs Chemical Biology 3(9): 530-541.

Chen, H.-S. V. and S. A. Lipton (2006). “The chemical biology of clinically tolerated NMDA receptor antagonists.” Journal of Neurochemistry 97(6): 1611-1626.

Christopoulos, A. (2002). “Allosteric binding sites on cell-surface receptors: novel targets for drug discovery.” Nat Rev Drug Discov 1(3): 198-210.

Conn, P. J., et al. (2009). “Allosteric modulators of GPCRs: a novel approach for the treatment of CNS disorders.” Nature Reviews Drug Discovery 8(1): 41-54.

Galandrin, S., et al. (2007). “The evasive nature of drug efficacy: implications for drug discovery.” Trends in Pharmacological Sciences 28(8): 423-430.

Kenakin, T. (2007). “Allosteric theory: Taking therapeutic advantage of the malleable nature of GPCRs.” Current Neuropharmacology 5(3): 149-156

Kenakin, T. (2011). “Functional Selectivity and Biased Receptor Signaling.” Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics 336(2): 296-302.

Kenakin, T. P. (2012). “Biased signalling and allosteric machines: new vistas and challenges for drug discovery.” British Journal of Pharmacology 165(6): 1659-1669.

Khoury, E., et al. (2014). “Allosteric and biased g protein-coupled receptor signaling regulation: potentials for new therapeutics.” Frontiers in endocrinology 5: 68-68.

Langmead, C. J., et al. (2006). “Probing the molecular mechanism of interaction between 4-n-butyl-1- 4-(2-methylphenyl)-4-oxo-1-butyl -piperidine (AC-42) and the muscarinic M-1 receptor: Direct pharmacological evidence that AC-42 is an allosteric agonist.” Molecular Pharmacology 69(1): 236-246.

Mohler, H., et al. (2002). “A new benzodiazepine pharmacology.” Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics 300(1): 2-8.

Nickols, H. H. and P. J. Conn (2014). “Development of allosteric modulators of GPCRs for treatment of CNS disorders.” Neurobiology of Disease 61: 55-71.

Nussinov, R. and C.-J. Tsai (2013). “Allostery in Disease and in Drug Discovery.” Cell 153(2): 293-305.

Olney, J. W., et al. (1991). “NMDA ANTAGONIST NEUROTOXICITY – MECHANISM AND PREVENTION.” Science 254(5037): 1515-1518.

Ruffolo, R. R. (1982). “IMPORTANT CONCEPTS OF RECEPTOR THEORY.” Journal of Autonomic Pharmacology 2(4): 277-295.

Stephenson, R. P. (1997). “A modification of receptor theory (Reprinted from Brit J Pharmacol, vol 11, pg 379, 1956).” British Journal of Pharmacology 120(4): 106-120.

Taly, A., et al. (2009). “Nicotinic receptors: allosteric transitions and therapeutic targets in the nervous system.” Nature Reviews Drug Discovery 8(9): 733-750.

Urwyler, S., et al. (2001). “Positive allosteric modulation of native and recombinant,gamma-aminobutyric acid(B) receptors by 2,6-Di-tert-butyl-4-(3-hydroxy-2,2-dimethyl-propyl)-phenol (CGP7930) and its aldehyde analog CGP13501.” Molecular Pharmacology 60(5): 963-971.

van Westen, G. J. P., et al. (2014). “Chemical, Target, and Bioactive Properties of Allosteric Modulation.” Plos Computational Biology 10(4)

Wang, L., et al. (2009). “Allosteric Modulators of G Protein-Coupled Receptors: Future Therapeutics for Complex Physiological Disorders.” Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics 331(2): 340-348.

Wenthur, C. J., et al. (2014). “Drugs for Allosteric Sites on Receptors.” Annual Review of Pharmacology and Toxicology, Vol 54 54: 165-184.

Zhang, Y. Q., et al. (2005). “Allosteric potentiators of metabotropic glutamate receptor subtype 5 have differential effects on different signaling pathways in cortical astrocytes.” Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics 315(3): 1212-1219.

Walaupun hanya memberikan kontribusi 5% terhadap nilai akhir, tapi menulis dengan passion itu memberikan kepuasan tersendiri :). semoga bermanfaat ! ❤


3 Comments

Reseptor Farmakologi

IMG_5824

Boleh jadi Alm. Bapak Sigit yang membuat saya jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan pelajaran ini. Saya ingat betul, ketika ia mengajarkan tentang reseptor obat, ketika itupula otak saya dipenuhi oleh pertanyaan :

kenapa reseptornya sama, obatnya beda walaupun satu golongan (misal sama-sama obat stroke), tapi cara kerjanya bisa beda? tsahhh

Sayangnya pelajaran ini identik dengan hafalan nama-nama obat dan cara kerjanya, bisa dipelajari tanpa dosen, atau dipelajari dengan sendirinya baca buku. padahal tidak seperti itu.

Sebenarnya, alasan yang membuat saya kepengen jurusan Clinicial Pharmacology, di Univ of Glasgow ini, karena menawarkan pemahaman mengenai Farmakogenomik dan Personalized medicine, dimana ini akan menjadi trend obat masa depan, yaitu sesuai materi genetik individu. Tambah lagi, di Univ of Glasgow lebih mengarah pada obat-obat Cardiovascular, Neuro-disease dan metabolic disorders. Pas ! sama trend penyakit era genomik.

Jadi, dengan alasan diatas, saya pengen banget bisa mendalami lebih banyak tentang Farmakogenomik melalui disertasi saya nanti, tapi… ditengah perjalanan, entah mengapa (saat ini), lagi-lagi tidak bisa move on dengan core farmakologi itu sendiri, yaitu nasib tubuh terhadap obat, the basic interaction between drugs and our body, specifically yang berperan banyak disini adalah the receptor.

Ketika memilih topik skripsi dulu, saya sebenernya ingin menantang diri saya di Farmakokinetik (nasib obat dalam tubuh) dimana saat itu dosennya adalah dosen wanita terpintar (versi saya), sebut saja inisialnya ibu Lucy DN Sasongko. Tapi, lagi-lagi, di detik-detik terakhir saya memutuskan topik, saya akhirnya memilih farmakologi, dengan spesifik membahas tentang signalling cascade ketika obat mengaktivasi reseptor.

Well. boleh ditarik kesimpulan, saya selalu punya curiousity pada reseptor obat, dan ini terjadi ketika menulis essay demi pemenuhan tugas Principle of Pharmacology

” Does the classical/ receptor pharmacology still plays an important role in 21st drug development?”

Dan akhirnya saya tertarik untuk membahas Allosteric Modulation. apaan tuh? setelah kelar essay, janji deh bakal dibahas di blog ini.

Nah.. sekarang masalahnya adalah…

The more you are interested in, the more you should to know, the more you feel confused, the more you don’t know what things should to write. But, congratulation, you are in the right path in getting knowledge

still keep it up

saya mau ngucapin makasih banyak sama Alm Pak Sigit, Pak Kus, Pak Ketut, Bu Elin, Bu Ima yang sudah memberikan saya pelajaran tentang Farmakologi.

Ditulis dengan mata berkaca-kaca karena masih sedikit progress essainya padahal udah begadang terus di perpus tiap malem tapi terdistraksi oleh banyak hal yang sia-sia T_T

cheers

Main Library, UoG

356 out of 2000 words, H-9 deadline

21st Jan 2015


Leave a comment

Merzouga, Maka Nikmat Tuhan Yang Manakah Yang Kau Dustakan?

Life is compared to a journey. And the journey should be worth to come closer to Allah. The journey, whatever it is, either long or short traveling should make us becoming more be grateful and have a bunch of patience. A journey to a new place, say that, ur holiday time, is not only about to enjoy the landmarks of the city…

Ternyata, lebih dalam dari hanya menikmati keindahan yang disuguhkan khas oleh tiap kota. Sebuah perjalanan, bagiku, haruslah pula bermakna dalam hidup, menggoreskan tidak hanya pengalaman tapi juga peningkatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Perjalanan juga memberikan kita pelajaran, menuntut kita mencari apa hikmah yang akan Allah berikan ketika kita diperkenankan menapaki tiap sudut dunia, mempelajari keunikan dan karakteristik, membuat kita lebih struggle, membuka wawasan dan pergaulan baru, membuat kita menerima orang lain tanpa harus lepas dari prinsip diri. Sehingga, suatu ketika kita tersadar, bahwa setiap perjalanan ini tidak pernah ada yang kebetulan.

Begitu pula perjalananku di Merzouga, sebuah wilayah di selatan Maroko, berbatasan dengan Algeria. Desa ini menorehkan cerita yang sungguh manis dalam ingatan saya. sangat berkesan.

Aku berangkat bersama ketiga temanku, Ade (teman SMA ku), Nisa (kakak tingkat Ade ketika kuliah S1), dan Winnie (temen sekelas Ade di jenjang S2-nya di Norway). Singkat Kata, Ade-lah yang mempertemukan aku dengan kedua partner perjalanan kami di Merzouga. Keempat cewek ini berangkat dari Fes menggunakan Bus Antar Kota, Supra Tour, kira-kira pukul 9 malam dan butuh waktu 6 jam untuk sampai ke Merzouga. Sebenernya keinginan kami cuma 1, ingin melihat Gurun Sahara, Gurun terbesar di Afrika yang sering hanya kami lihat, baca dan dengar ketika SD belajar IPS. We do not expect anything except that.

Untuk menuju Merzouga kami melewati pegunungan Atlas. Ketika melewatinya, aku yang setengah mengantuk langsung seketika seger karena melihat langit malam itu sungguh bersih dan berhamburan bintang. Salju yang menutupi puncak-puncak gunung juga tampak bersinar dari pantulan cahaya bintang, Amazing !

Kami sampai di Merzouga pukul 5 pagi. Ketika turun dari Supra Tour, pihak hotel tempat kami akan menginap telah menunggu dan segera mengantarkan kami ke hotel. Hotel di Merzouga cukup murah dengan fasilitas kamar yang luas dan fasilitas breakfast moroccan style serta wifi, untuk dua malam tiga hari dengan kamar yang luas kira-kira tidak lebih dari 50GBP (affordable kan ?). Rencana kami hari itu adalah camel track dan bermalam di Gurun Sahara hingga subuh keesokan harinya. Sounds interesting ? yes absolutely !

Kira-kira pukul 3 sore kami mulai perjalanan menuju padang pasir. Ketika keluar penginapan, aku melihat barisan onta yang telah siap untuk ditunggangi oleh para musafir turis macam kami. Sebelum naik onta, aku mengobrol lucu dulu dengan si onta, minta izin ceritanya dan minta tolong supaya diantar dengan selamat. Anggap saja, perkenalan awal dengan onta.

Pemandangan melintasi Gurun Sahara menuju perkemahan lagi-lagi membuat aku berkaca-kaca. Subhanallah ! dari Indonesia yang tropis, Eropa yang kombinasi klasik dan futuristik, dan teriknya padang pasir, siapa lagi yang menciptakan kalau bukan Allah ? seketika aku teringat akan cerita-cerita hijrah Rasulullah dan para sahabat. Perjalanan naik onta ternyata cukup melelahkan, 2 jam lamanya.

IMG_5806

Ini benar adanya pemandangan barisan onta digiring oleh pemimpin perjalanan melintasi gunung Sahara. dan aku duduk manis di onta nomor ketiga

IMG_4944

perkemahan ditengah Gurun Sahara, mencoba merasakan bagaimana ketika para Sahabat Rasulullah SAW dulu hijrah dan tinggal di gurun

Sesuai rencana, kami menghabiskan malam di kemah tengah gurun. Sebelum beranjak tidur, aku dan keempat temanku, bersama rombongan musafir lainnya (dari Argentina dan Amerika) mengitari api unggun untuk menghangatkan badan karena ternyata suhu gurun pada malam hari turun drastis dengan angin yang super kencang. Saat summer, suhu gurun bisa mencapai 50 derajat sehingga bisa sekalian langsung masak telur dengan gurun sebagai kompor. Ditambah, banyak hewan seperti kalajengking yang keluar pada musim panas. Kami pun bernyanyi dan mendengarkan cerita dari pemimpin rombongan tentang suku Nomaden (yang hidup berpindah-pindah) dan Berber (suku asli Maroko). Si guide juga menceritakan tiap arti lagu yang ia nyanyikan dengan gitar dan alat musik tradisional lainnya. Misal, sebuah lagu yang berarti untuk menghibur suku Berber yang tinggal di gurun dan menanti hujan. Oiya, jangan berharap fasilitas macam-macam diitengah alam, seperti toilet, menyatulah dan kembalilah ke alam. Itu malah lebih menyegarkan ! ^^

IMG_4938

Mengeliling api unggun dan bernyanyi bersama

IMG_5816

onta sebagai moda perjalanan

Keesokannya, setelah keluar dari padang pasir Sahara yang sungguh luas dan berundak-undak kami melakukan jeep tour bersama Hamid (adik yang punya penginapan) dan satu orang temannya yang menyetir jeep. Kami diajak mengelilingi wilayah-wilayah di sekitar Merzouga. Pertama, kami diajak melihat danau air hujan. Aku langsung menerka ini adalah Oase sumber air bagi masyarakat Merzouga. Kadang ga kebayang sih, kalau musim panas dan oase ini kering, dimana lagi sumber air mereka?. Destinasi kedua, kami diajak ke Desa Khamlia, desa tempat tinggal suku Bambara, orang-orang Algeria yang menetap di Merzouga. Tidak seperti kebanyakan orang Maroko, yang memiliki wajah campuran Arab-Perancis-Spanyol, Bambara berkulit hitam seperti kebanyakan orang Afrika. Di Khamlia Village, kami disuguhi nyanyian dan tarian khas dilengkapi juga alat musik tradisionalnya.

Oase masyarakat Merzouga. Serasa pantai tapi ternyata danau. benar-benar pemandangan yang baru bagi saya

Oase masyarakat Merzouga. Serasa pantai tapi ternyata danau. benar-benar pemandangan yang baru bagi saya

IMG_5039

Terkesima dengan indahnya pemandangan langit, gurun, danau, sabana dan stepa

IMG_5065

Suku Bambara di Khamlia Village memainkan instrumen musik tradisional

Iseng mencoba alat musik tradisional suku pendatang dari Algeria di Maroko. These are camdid pictures

Iseng mencoba alat musik tradisional suku pendatang dari Algeria di Maroko. These are camdid pictures

Dari Khamlia kami menuju Nomaden Village, suku yang sering berpindah-pindah dari suatu area ke area lainnya, biasanya mereka mendirikan tenda sementara. tapi ketika memilih menetap disuatu area, mereka mendirikan rumah berdindingkan tanah liat. sebelum sampai di daerah tersebut, kami diperlihatkan beberapa sumur tambang batubara yang menjadi mata pencaharian penduduk-penduduk dekat perbatasan ini, Mungkin ada perusahaan tambang yang menggali mineral di daerah ini dan merekrut mereka sebagai pekerja.

Ketika sampai di salah satu tempat tinggal penduduk nomaden village, dan turun dari jeep, aku bener-bener dibuat bungkam lagi, disihir sama alam. Aku seperti real berada di daerah yang sering cuma aku lihat di lonely planet. Dari kejauhan aku melihat seperti tembok tanah liat  besar yang ternyata tanda perbatasan Algeria dengan Maroko. jarak antara satu rumah dengan rumah lain tidak lah terlalu dekat tapi masih bisa dijangkau mata, karena tidak ada bangunan lain kecuali tanah rumput dan satu-dua pohon yang terlihat.

IMG_5070

Jalan menuju nomaden village

IMG_5101

Foto favorit

IMG_5104

di daerah ini banyak sumur-sumur tambang batu bara yang kedalamannya bisa sampai 25-30an meter

IMG_5132

aku (kiri) dan teman perjalanan sekaligus teman baruku (Winni-Nisa-Ade-Hamid)

IMG_5169

Tenda-tenda sementara orang yang nomaden, bagi yang suka challenging adventure bisa mencoba berkemah seperti layaknya orang Korea dan istrinya yang tidur di tenda tersebut

IMG_5170

di belakang sana adalah tembok perbatasan Maroko dan Algeria

IMG_5174

No filter. Dapurnya suku Berber yang menetap disini

IMG_5178

I can’t imagine if I live here. This is awesome !

Kami disuguhi teh herbal yang aku pun tak tahu itu jenis tanaman bernama ilmiah apa. tapi kehangatan mereka lah yang membuat segelas teh semakin nikmat. seorang nenek yang tinggal di rumah tersebut menawarkan hasil karyanya, prakarya yang sederhana dan dijual dengan harga yang lumayan tinggi, namun… aku melihat disini adalah keinginan bekerja yang tetap mereka realisasikan dalam bentuk oleh-oleh yang kemudian ditawarkan ke para turis ketimbang berharap diberi tips dari pelancong dengan modal kasihan. aku tidak pernah membayangkan apakah aku bisa bertahan dengan kehidupan serba terbatas itu. dari raut wajah mereka, mereka seakan tidak pernah mengeluh dan senang hidup seperti ini. tidak ingin berpindah ke kota. You are the real fighter ! aku pun jadi belajar bukan alasan tidak adanya fasilitas, apakah fasilitas yang ada sudah disyukuri dengan digunakan semaksimal mungkin?

Satu hari ber-jeep tour ria diakhiri dengan memandangi dan menikmati matahari yang pelan-pelan hilang dari undakan gurun. syahdu.

IMG_5218

IMG_5231

Keesokannya, pukul 8 pagi kami sudah siap untuk berangkat menuju Marrakesh. Buru-buru kami menghabiskan sarapan terakhir di Merzouga dan berpamitan dengan keluarga yang memiliki hotel tersebut. kami menaiki Supra tour (lagi) untuk sampai ke kota Marrakesh, salah satu kota bersejarah Maroko. Butuh waktu 12 jam ! dan jalannya yang 100 kali lipat dari kelok 44 Sumatera Barat, tapi dibayar oleh pemandangan sepanjang perjalanan. kami dibuat terpesona dan sukses menahan diri untuk tidak mabuk darat.

Merzouga benar-benar memberi kesan tersendiri. kami tidak berharap lebih selain menapak gurun, tapi kami malah diberi lebih dari sebuah perjalanan melepas penat 1 semester kuliah. Kami melihat rupa alam lainnya yang semakin membuat kita sadar bahwa sungguh kita hanyalah satu titik di dunia yang luas ini. Maka berjalanlah di bumi Allah ini, dan ambillah banyak pelajaran. terimakasih Merzouga, maka nikmat Tuhan yang manakah yang aku dustakan ?

Merzouga,

8-9 Januari 2015